Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Vox Populi, Vox Dei“
Suara rakyat adalah suara Tuhan
(Risalah Whing 1709)
…
| Red-Joss.com | Sepotong sejarah bagaikan sang Ibu yang dengan setia menyimpan aneka peristiwa di balik perjalanan waktu. Itulah sebuah sejarah.
Sepotong sejarah tidak pernah berkata bohong. Baik dari aspek waktu secara kronologis juga dari aspek waktu sebagai roh dari sebuah realitas sejarah.
Aku sang Penyambung Lidah Rakyat
Bung Karno, sang Proklamator agung kita (1945-1967), yang dikenal juga sebagai singa podium alias sang orator ulung mondial (1945-1967), justru telah menciptakan sepotong sejarah.
Dalam pidato-pidatonya yang selalu berapi-api, pria flamboyan itu sangat sering berargumen, bahwa “Akulah sang penyambung lidah rakyat bangsaku!”
Dalam konteks ini, sejatinya, beliau justru mau berkata, bahwa seluruh keinginan dan cita-cita luhur rakyat Indonesia, harus dikumandangkan, disuarakannya. Harus pula didengarkan dan dilaksanakan. Karena baginya, inilah amanat hati nurani rakyat.
Suara Rakyat Representasi Kehendak Tuhan
‘Inilah amanat hati nurani rakyat,’ dan saya jadi teringat dengan sebuah adagium berbahasa Latin, “Salus populi, suprema lex esto,” yaitu suara rakyat adalah hukum yang tertinggi.
Suara rakyat adalah hukum yang tertinggi. Karena suara rakyat dimaknakan sebagai representasi dari suara Sang Kebenaran, itulah suara sebagai kehendak Tuhan sendiri.
Kita juga sebagai Penyambung Lidah
Apakah kita ini, yang hidup di negeri nan elok permai, telah bertindak sebagai penyambung lidah Tuhan?
Ataukah kita kini justru sebagai oknum, pihak, golongan, partai politik, dan pemimpin yang telah membelokkan, bahkan sebagai pengkhianat suara Tuhan?
Kita hidup, bergerak, dan ada kini sebagai wakil siapa? Apakah sebagai wakil dari ego sendiri? Ataukah sebagai pihak yang mewakili rakyat, ataukah sebagai wakil dari kaum keluarga sendiri (sang pemimpin nepotis).
Idealnya, bahwa kita adalah wakil dari suara Kebenaran itu. Siapa dan apa pun peran hidup kita. Apakah kita sebagai rakyat biasa, guru dan pegawai, anggota partai politik, pejabat pemerintah, tokoh agama, atau bahkan sebagai pemimipin negara dan bangsa?
Sejatinya, kita semua wajib mengamanatkan suata Tuhan lewat karya pelayanan nyata demi kesejahteraan rakyat dan bangsa kita.
Namun apa yang riil dan sering terjadi kini?
Kita ini, kini, dan di sini, sebagai penyambung lidahnya siapa?
…
Kediri,ย 23ย Juliย 2024

