| Red-Joss.com | Aneh! Tiada hujan atau angin, tiba-tiba aku ingin jadi penyair. Padahal aku anti bermenung ceria, apalagi diibaratkan menunggu Godod yang tidak kunjung pasti kedatangannya.
Bagiku hidup adalah kepastian, bergerak, terarah, dan fokus ke tujuan akhir yang jelas. Tidak basa basi, tapi untuk disyukuri, dijalani, dan dinikmati.
Tidak basa basi, faktanya hidup ini jelas dan pasti. Tujuannya agar kita tidak mengenakan topeng diri, tapi bersikap jujur dan benar di hadapan-Nya.
Jika tiba-tiba aku ingin jadi penyair, karena hidup itu harus disyukuri. Tidak sebatas retrorika berkata-kata kosong, tapi diwujudnyatakan untuk berbagi pada sesama, dinikmati, dan dimaknai.
Aku ingin jadi penyair, karena hobi merangkai kata, seperti merangkai jalinan hidup. Meski aku tidak suka merenung, berkhayal, dan juga bukan pemimpi. Melainkan pribadi yang realistis, hidup itu hikmat. Aku menatap masa depan dengan iman, harapan, dan tindakan kasih.
Karena hobi merangkai kata, jadilah aku pemulung kata-kata di telaga kasih-Nya. Aku ibarat rusa yang mendamba belas kasih-Nya agar hidupku terjamin dan aman dalam lindungan-Nya.
Sesungguhnya hidup kita dijamin oleh Tuhan. Segala kebutuhan kita telah disediakan untuk diolah dan dikelola secara bijaksana agar kita hidup damai sejahtera dan bahagia.
Ternyata dengan tekun memulung kata-kata di telaga kasih-Nya, aku yang semula tidak mampu dan tidak berdaya jadi dimampukan dan diberdayakan. Bahkan aku tidak pernah kehabisan inspirasi. Ide demi ide mengalir bagai udara yang aku hiruf, dan kuhembuskan jadi mantra sakti.
Sungguh, aku jadi bangga, ketika Tuhan izinkan aku memulung kata-kata firman-Nya.
“Izinkan aku membaca hikmat-Mu dalam setiap peristiwa
Untuk maknai tugas perutusanku
Taat dan setia pada kehendak-Mu
Karena aku milik-Mu
Sekarang dan selamanya.”
Kata-kata-Nya, kurangkai jadi doa untuk kurealisasikan ke dalam tindakan nyata demi kemuliaan-Nya.
…
Mas Redjo

