Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Seutas layang-layang diterbangkan ke angkasa biru hanya oleh kehendak sang
pengendalinya.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Siapakah Layang-layang itu?
Di mana pun di dunia ini, orang-orang mengenal dan sangat akrab dengan permainan rakyat yang disebut layang-layang. Bahkan dalam konteks tertentu, Anda dan saya dapat diumpamakan dengan seutas layang-layang, yang sesuka hati akan dipermainkan oleh sang pengendalinya.
Seutas layang-layang biasanya akan dimainkan (diterbangkan), di saat siang hari, ketika angin bertiup cukup keras. Mengapa? Ya, karena bukankah seutas layang-layang hanya akan terbang ke angkasa, justru ketika angin bertiup cukup keras?
Kehendak sang Pengendalinya
Sejatinya seutas layang-layang hanya akan terbang ke angkasa, justru ketika ada tangan alias orang yang memainkannya. Orang yang sibuk memainkannya disebut sang pengendali. Namun, sejatinya, siapakah sang pengendali itu?
Sang dialah yang akan mendalanginya dengan sesuka hatinya lewat seutas tali panjang yang diikat-kaitkan pada tubuh seutas layang-layang. Jadi, di balik permainan rakyat itu, justru ada dalangnya, sebagai si pengendalinya.
Siapakah Layang-layang dan Pengendalinya?
Tulisan refleksi ini berjudul, “Sang Pengendali Layang-layang.” Tapi siapakah sejatinya keduanya itu? Siapakah seutas layang-layang dan pengendalinya itu?
Seutas layang-layang itu adalah representasi diri manusia, dan pengendali itu, representasi Diri Sang Pencipta. Dialah Tuhan. Bukankah Dialah Sang ‘actor intellectual’ bagi seluruh proses perjalanan hidup kita?
Bukankah Dia yang menyelenggarakan dan bahkan penggenggam seluruh nasib hidup kita? Hanya lewat dan di dalam genggaman tangan kasih-Nya, maka seluruh proses ziarah hidup kita didalangi-Nya.
Akan ke mana dan bagaimana arah serta seluruh gerak hidup kita, semuanya itu justru sangat bergantung dari niat dan rencana serta kehendak-Nya. Dalam konteks ketakberdayaan ini, seluruh nasib hidup kita, mutlak berada di bawah kendali serta kehendak-Nya.
Sadar dan Setialah
Sebagai seutas layang-layang, hendaknya Anda dan saya tunduk serta patuh teguh pada rencana dan kehendak-Nya, karena bukankah Dia adalah Sang Pengendali seluruh ziarah hidup kita?
Dan Akhirnya!
Hendaklah kita bersikap setia dan tunduk di bawah kuasa kasih kehendak-Nya!
“Maka, jadilah hamba yang setia!”
Kediri, 8 Juli 2025

