| Red-Joss.com | Aneh!
Tiba-tiba, sepulang mengunjungi untuk mengenal lebih dekat suatu kehidupan komunitas pendoa, saya tertarik untuk bergabung dengan mereka.
Bagi saya, hal itu tidak hanya asyik, tapi menarik. Mereka menjalani hidup dengan misi doa dan bekerja. Nafkah mereka dari pastry alias membuat kue/roti, perkebunan kopi, atau pertenakan sapi perah. Sehingga mereka menjalani hidup tidak mengandalkan sumbangan umat.
Apakah keinginan saya bergabung dengan mereka, karena jenuh hidup di kota besar yang selalu diburu waktu dan demi materi?
Bertanya, entah berapa puluh kali saya bertanya pada diri sendiri. Untuk menimbang, merenungkan, lalu memutuskan untung ruginya. Karena saya telah berkeluarga.
“Tapi kau harus mengutamakan Allah di atas segalanya,” kata suara lain mengingatkan. Ya, kita harus menomor-satukan dan mencintai Allah dibandingkan yang lain.
Bukankah ada tertulis juga, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci Bapanya, Ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk 14: 26).
Ya, itu tidak salah. Bahkan untuk membela Yesus dan keimanan, kita harus rela korbankan diri. Termasuk nyawa ini.
Sesungguhnya, kejenuhan yang mana, sehingga saya tertarik untuk bergabung? Bagaimana hubungan saya dengan Allah selama ini?
Saya memejamkan mata, menarik nafas, dan mencoba mencari jawab.
Selama ini saya bekerja berangkat pagi pulang petang demi keluarga, tapi sata melakukan itu didasari oleh cinta dan tanggung jawab.
Hidup doa juga baik. Karena saya biasa merefleksikan hidup ini untuk dijalani penuh syukur dan terima kasih pada Allah.
Hubungan dengan istri dan anak-anak juga tidak ada masalah, karena kami biasa berkomunikasi dan bicara dari hati ke hati.
Jika keinginan untuk bergabung dengan komunitas itu muncul, juga hal wajar. Karena untuk menjadi pendoa itu pilihan dan anugerah Allah.
Begitu pula dengan hidup berumah tangga. Hidup berkeluarga yang sesungguhnya itu, ketika doa-doa keimanan kita diwujudkan dalam hidup keseharian. Lewat pikiran, kata-kata, dan perilaku yang mencerminkan kasih Allah.
Hidup yang terberkati, karena sesungguhnya kita adalah saluran berkat Allah.
…
Mas Redjo

