“Sekecil apa pun perbuatan kasih itu lebih bermakna, dibandingkan seribu kata-kata indah yang tiada nilainya.” -Mas Redjo
…
Lelaki itu berjalan mondar-mandir. Hatinya risau. Aneh, baru kali ini ia merasa terusik. Padahal ia terbiasa berdiri di podium memberi ceramah. Sedang malam ini, ia didaulat Pak Kaling untuk memberikan renungan sembayangan yang lingkupnya kecil, dan dihadiri sekitar 30an umat. Grogi, karena berbau rohani?
Untuk renungan sembayangan Lingkungan itu biasanya dibawakan oleh Pamong Sabda. Karena untuk penyegaran, kesempatan diberikan ke umat, hal ini dimaksudkan agar regenerasi kepengurusan berjalan lancar dan baik.
Memberi ceramah umum itu mudah, tapi menyampaikan ke umat yang berkaitan dengan kerohanian itu tantangan yang menarik. Ceramah di podium yang selalu berakhir dengan tepuk tangan meriah sambil berdiri itu heboh dan ‘wow’. Tapi wejangan rohani di Lingkungan?
Tiba-tiba lelaki itu seperti terkena aliran setrum, diingatkan, saat ia membuka Kitab Suci tentang umat yang bekerja di Kebun Anggur-Nya (Mat 19: 30). “Tetapi banyak orang yang terdahulu akan jadi yang terakhir, dan yang terakhir akan jadi yang terdahulu.”
Ia menekur, kesadarannya disentuh kasih Allah. Bekerja untuk dunia itu membuat kita sering lupa diri, jadi sombong, gila hormat, dan pujian. Tapi bekerja untuk-Nya, kita diajak untuk jadi pribadi yang rendah hati dan membumi. Semua itu dimulai dari keluarga sendiri.
Untuk yang kesekian kalinya pula, ia disadarkan agar melihat realita dalam keluarganya. Diluaran ia berhasil memberi motivasi dan inspirasi. Tapi ia tidak melakukan hal yang sama pada keluarganya. Ternyata selama ini yang diberikan adalah fasilitas kemudahan dan minus ‘sapa aruh’, karena kesibukan pekerjaan. Sehingga ada seorang anaknya yang kebablasan. Duh!
“Tuhan, terima kasih. Engkau telah mengingatkan saya lewat renungan kecil di Lingkungan,” guman lelaki itu dalam keharuan.
Budaya sapa aruh itu harus dihidupi di setiap keluarga sebagai ujud tanggung jawab orangtua dalam memberikan pendidikan moral dan spiritual pada anak-anaknya.
“Didiklah orang muda itu menurut jalan yang harus ditempuhnya, maka pada masa tuanya nanti, ia tidak akan menyimpang daripada jalan itu” (Amsal 22: 6).
Matur sembah nuwun, Gusti.
…
Mas Redjo

