“A sower went out to sow his seed” (Luke 8:5).
…
| Red-Joss.com | Ke mana perginya Sang Penabur Benih ini?
Pertama: benih itu ditaburkan di jalan. Apa yang terjadi? Burung-burung datang dan berebut menikmati benih-benih itu. Juga benih-benih itu terinjak-injak oleh siapa pun yang lewat dan tidak ada harapan untuk tumbuh.
Bila kita renungkan, apa pun jenis benihnya, dengan kualitas unggul sekali pun, jika medianya tidak tepat, sama sekali tidak menjanjikan apa-apa.
Kedua: kemudian Sang Penabur itu menaburkan benihnya di tanah yang berbatu. Sayang sekali benih yang kualitasnya nomor satu, tapi, karena medianya kurang cocok, maka sia-sia. Jikapun tumbuh tidak lama, karena cepat layu, dan akhirnya mati.
Ketiga: setelah itu Sang Penabur menaburkan benihnya di lahan yang belum diolah, yaitu di lahan yang bersemak-semak.
Kita bisa merenungkan, jika benih itu tumbuh, pasti pertumbuhannya kalah cepat dengan tumbuh-tumbuhan di sekitarnya. Kita tidak yakin, apakah benih-benih itu akan menghasilkan buah seperti yang diharapkan oleh Sang Penabur itu.
Keempat: akhirnya, kita melihat ada tanah yang sudah diolah, dan Sang Penabur itu menaburkan benihnya di lahan itu.
Kita bisa merenungkan, jika lahannya seperti ini, diolah dengan baik dan benihnya sangat unggul dan berkualitas, maka pasti akan tumbuh dengan sangat baik.
Lalu, Sang Penabur itu meneruskan perjalanannya.
Perumpamaan tentang Sang Penabur Benih (Luk 8: 11-15) itu sungguh menggugah hati. Kita bisa merenung, saat ini jenis tanah kita yang mana?
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

