“This poor widow put in more” (Lk 21: 3).
…
| Red-Joss.com | Dia tidak merasa kekurangan, sebab Dia suka memberi. Dia tidak takut kehilangan, karena dia senang berbagi. Dia tetap bergembira, ketika bisa berbagi dan memberi, sebab dia itu murah hati.
Orang yang murah hati, jika berbagi atau memberi sudah ‘bisa melampaui’ pertimbangan-pertimbangan manusiawi. Mereka ini sudah ‘memiliki hatinya Tuhan’. Yang menjadi pertimbangannya adalah ada orang yang harus ditolong, dan mereka tidak menunggu atau bertanya siapa yang akan menolong. Cepat bergeraknya: dia melihat, dia berpunya, dan dia yang menolong.
Ada juga di antara kita yang kerjanya untuk menghubungi teman, supaya menolong si A atau si B. Andalannya adalah menelpon atau kirim pesan. Setelah dilihat, ternyata dia sendiri tidak pernah berbagi. Padahal dia berpunya. Dia juga bukan “Sekretaris/Penghubung Kemurahan Hati”. Yang ada adalah orang yang murah hati. Orang yang bergerak cepat tanpa dikomandoi.
Memang ada fakta, orang yang berbagi, karena diminta sebelumnya. Itu normal. Tapi, kalau bisa, jadilah orang benar-benar murah hati. Saya “love so much” dengan kata-kata ini, “there is greater blessedness in giving than in receiving.” Kata-kata ini benar sekali. Karena pengalaman dari mereka yang senang memberi, ada saja cara Tuhan menggantikannya. Ketika kita memberi lebih, Tuhan memberi lebih lagi. Bahkan Tuhan membayarnya dengan lunas, bahkan ada ‘bonus’-nya. Bonusnya adalah iman kita terus bertumbuh dan percaya akan Penyelenggaraan Ilahinya. Amin.
…
Hong Kong, 27 Nopember 2023
Rm. Petrus Santoso SCJ

