Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Nyawa seorang anak manusia ibaratnya tersimpan di dalam sebuah koper yang setiap saat siap untuk dibukakan.”
(Refleksi Kematian)
Pohon yang Belum Berbuah
Seorang Petani saleh menanam sebatang pohon. Kini pohon itu bertumbuh besar, sekalipun belum berbuah. Namun, sang Petani itu pun akhirnya meninggal dunia.
Tak lama setelah kematian sang Ayah, anak-anaknya pun berniat untuk menebang pohon warisan itu. Namun, seorang tetangga tua berkata, “Janganlah kalian berniat menebang pohon itu, karena belum waktunya ia berbuah. Percayalah ada saatnya dia akan berbuah.”
Anak-anak itu segera percaya akan saran dari tetangga tua itu. Sungguh benar, setelah beberapa tahun, akhirnya pohon itu justru jadi sumber rejeki bagi anak-anak itu.
(Dari Berbagai Sumber)
Makna Simbol Ilustrasi
Ilustrasi yang sedang kita gulati secara rohani ini, mau menyimbolkan, bahwa ‘seorang pemuda dapat dipanggil sebelum waktunya.’ Artinya, ia direnggut, ketika usianya masih sangat muda. Nyata pula, bahwa kini ia telah dipanggil pulang, bukan?
Misteri Rencana Tuhan
“Tuhan yang memberi, dan Tuhan pula yang mengambilnya pulang,” demikian seuntai kalimat bermakna dari Alkitab.
Sungguh, otak kepala manusia ini tidak sanggup memahami misteri dari rencana agung Tuhan bagi seorang anak manusia. Dalam konteks ini, nyawa kita seolah-olah tersimpan di dalam sebuah koper kehidupan. Dalam setiap saat pula, Tuhan sesuai kehendak agung-Nya, bebas untuk mengambilnya.
Ya, maka hendaklah kita senantiasa menyandarkan seluruh isi pengharapan kita ke dalam Tangan dan kuasa kasih Tuhan. Karena Dia-lah Sang Penyelenggara hidup dan mati kita?
Kata Rasul Paulus, bahwa “Baik hidup dan mati kita ini tetap milik Tuhan.”
Kita percaya, bahwa Tuhan telah mempunyai rencana spesial bagi seorang muda yang telah dipanggil-Nya.
Bukanlah, kematian dan kehidupan itu bagaikan dua orang sahabat karib yang tifak terpisahkan? Keduanya itu ibarat sekeping uang koin, bukan?
“Barang siapa yang telah dilahirkan ke atas dunia, maka ia siap pula untuk menghadapi sebuah realitas kepahitan, yang bernama sang kematian (refleksi filosofis).
Maka, peran termulia bagi kita yang masih hidup dan berjuang di atas dunia ini ialah membantu lewat doa serta harapan kita, agar sang arwah dapat mencapai kedamaian kekal.
“Sungguh, Tuhanlah Sang Pemanggil Ajaib itu!
Kediri, 24 Agustus 2025

