Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang pemanah setia merentangkan busurnya dan melesatkan anak panah ke angkasa.”
(Amanat Cita-cita Hidup)
Ilustrasi Imajinatif
Ketika langit malam yang indah ditaburi berjuta bintang, tampak seorang Raja bercekak pinggang. Ia asyik memandangi angkasa.
Ia bergegas mengambil busur dan anak panahnya, lalu merentangkan busurnya membidik ke angkasa berbintang.
Di belakangnya berdiri salah seorang Putra Mahkota yang juga tampak sangat menikmati keindahan langit malam. Sesaat kemudian, bertanyalah Putra itu, “Apa makna dan tujuan dari seluruh tindakan Ayah?”
“Anakku, malam ini, aku melaksanakan amanat Kakekmu. Bahwa untuk meraih masa depan yang cemerlang bagi kerajaanku, maka aku harus belajar untuk membidik ke angkasa dan melesatkan sebuah mata panah sebagai ikrarku demi meneruskan cita-cita Kakekmu.”
Sambil meraih pundak Putranya, Raja itu berkata, “Kini mengertikah engkau akan makna dan tujuan dari seluruh tindakanku?”
“Ya, aku mulai lebih mengerti, Ayah. Tapi apa hubungannya dengan kejayaan kerajaan Ayah di masa depan?”
“Anakku, aku memahami, bahwa hari ini engkau belum mengerti. Tapi kelak, engkau akan memahaminya.”
Ketika malam kian larut dan alam mulai tertunduk lesu, aku diam-diam membangunkan Putraku. Di saat aku membangunkannya, ia tampak memahami akan seluruh maksudku.
Sambil memakaikan seutas jubah kebesaran kerajaan ke tubuh Putraku, mengenakan mahkota di kepalanya, serta seutas mantel kebesaran, kini Putraku tampak perkasa dan berwibawa.
Putraku sempat bertanya, “Ayah, sanggupkah aku kelak memikul dan meneruskan warisan Kakek?”
“Kamu harus menyanggupkan untuk memikul tugas mulia ini ke pundakmu, seperti dulu Ayah juga menerimanya.”
Aku melihat putraku itu tercenung sejenak. Ia mengangkat wajahnya dan menatap ke langit berbintang.
“Bermimpilah putraku demi hari depanmu, dan bersinarlah secemerlang bintang-bintang itu,” demikian rayuanku ke telinga mudanya.
Putraku dengan langkah sigap dan percaya diri, sambil sejenak menatap ke angkasa. Ia lalu merentangkan busur perkasa dan segera melesatkan mata anak panah itu ke angkasa.
Menyaksikan hal itu, hatiku berdebar keras. “Oh Ayahku, ternyata anakku dan cucumu ini, sanggup meneruskan tugas muliamu.”
Malam itu, aku dan anakku terlelap dalam buaian malam berbintang.
Kala esok hari tiba, aku dan Putraku bangun untuk melaksanakan amanat dari Ayahku.
Melanjutkan Sebuah Warisan
Sebuah warisan, biasanya diterima secara cuma-cuma dan di balik itu, bagaimana kita akan meneruskan dan mengembangkan warisan itu. Karena bukankah sebuah warisan itu kelak akan diwariskan lagi kepada penerusnya? Itulah sebuah tongkat estafet kehidupan.
Refleksi
Di dalam hidup ini, hendaklah kita bersikap tulus dan setia serta bertanggung jawab atas tugas yang diembankan ke bahu kita.
Ingatlah selalu, bahwa tugas itu hanya bersifat sementara!
Maka, serahkanlah tugas itu kepada penerusmu tepat pada waktunya.
Kediri, 10 November 2025

