Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah kebiasaan adalah sesuatu yang dapat kita pikul sepanjang hidup kita.”
(Didaktika Hidup sang Manusia)
…
| Red-Joss.com | Ada sang Pelukis yang cenderung untuk melukis seraut wajah atau pun manusia yang sedang dilanda penderitaan.
Saya memang tidak paham, jika ditinjau dari genre dan aliran lukisan, bahwa dapat digolongkan ke dalam genre lukisan beraliran apakah itu?
Tentang pribadi sang pelukis yang cenderung melukis seraut wajah yang menderita.
Apakah dia berlatar belakang sebagai pribadi melankolis, sehingga ia cenderung untuk melukis tentang hal-hal yang berkaitan dengan penderitaan?
Sesungguhnya, karakter sejati seorang manusia, erat berkaitan dengan latar belakang kehidupannya.
Teristimewa hal yang berkaitan dengan kebiasaan dalam aktivitas hidup kehariannya. Karena hal ini lambat laun akan menjadi sebuah kebiasaan pula.
Ada ungkapan (idiom) manis, “ala bisa, karena biasa.” Saya sangat percaya akan kebenaran dari fenomena hidup yang satu ini.
Bukankah sebuah kebiasaan dapat membentuk sebuah karakter? Memang demikian tabiat seseorang itu.
Tentang pelukis yang cenderung mengekspresikan seraut wajah atau manusia yang menderita, karena memang hal itu bertolak dari titik kesadarannya.
Artinya, dia selalu berkesadaran untuk mengekpresikan penderitaan itu di dalam hidup dan karya seninya. Mengapa?
Hal itu sudah menjadi bagian hakiki yang tak terpisahkan dari totalitas kesadarannya.
Tengoklah pada hasil karyanya di hari pameran lukisan. Cermatilah dengan saksama, apa tema dominan dan wujud riil dari hasil karya seninya? Bukankah didominasi oleh ekspresi penderitaan?
Dalam prinsip hidup dikatakan, bahwa “hasil karyaku adalah diriku.” Artinya, bukankah sebuah hasil karya, sejatinya telah mengekpresikan karakter dominan dari pelukisnya?
Sungguh, hal ini pun tak dapat dielakkan. Bahwa inilah bagian hakiki dari diri dan karakternya.
Sehingga, jika seseorang memandang sebuah lukisan, akan segera diketahuinya, siapakah pelukisnya.
Demikian juga, seperti pohon mangga akan berbuah mangga dan kelapa m berbuah kelapa. Bukankah pohon dapat dikenal dari buahnya?
…
Kediri, 31 Maret 2024

