Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sang pelukis sejati hanya mengekspresikan
sekeping wajah tulus
Tuhan”
(Didaktika Hidup Sadar)
Seluruh Realitas Berasal dari Tuhan demi Membuktikan Keberadaan Tuhan
Pernahkah Anda mendengar sebuah dialog hangat antara seorang Profesor atheis dengan seorang anak berusia sepuluh tahun?
Di saat Profesor atheis sedang berapi-api mau meyakinkan para mahasiswanya, bahwa Tuhan itu sungguh tidak ada, karena eksistensinya memang tidak dapat dibuktikan.
Di saat itu, masuklah seorang anak kecil dan meminta, agar dirinya diizinkan untuk boleh diikutkan menghadiri sesi perkuliahan itu.
Bocah itu bertanya, “Tuan, mengapa Tuan tidak percaya, bahwa Tuhan itu ada?”
“Ya, secara ilmiah saya hanya dapat mempercayai sesuatu yang keberadaannya dapat dibuktikan secara ilmiah pula.”
“Oh begitu, ya. Jika memang demikian, apakah Tuan tidak percaya, bahwa pikiran dan perasaan Tuan itu memang ada?”
Bocah itu pun melanjutkan, “Bukankah keberadaan perasaan dan pikiran Tuan juga tidak dapat dibuktikan?”
Ketika itu pula, tampak Profesor itu sangat terperanjat dan mulai pucat pasi wajahnya.
(Dari Berbagai Sumber)
Hingga detik ini, dunia kita masih terperangkap dalam pikirannya, antara ada dan tiadanya Tuhan.
Di saat seorang pelukis sedang merenung untuk mendapatkan inspirasi untuk tema lukisannya, datanglah seorang pria penasaran dan bertanya, “Tuan sedang merenungkan apa?”
“Oh ya, saya sedang merenung agar mendapatkan sebuah inspirasi sebagai tema lukisan saya.”
“Oh begitu ya. Siapa yang akan mengirimkan inspirasi itu?”
“Dari Tuhan, sebagai sumber dari segala sesuatu yang ada.”
“Tapi, Tuhan tidak bisa Tuan lihat kan?”
“Ya, betul. Tapi, saya dapat melihat seluruh eksistensi-Nya lewat seluruh realitas ini.”
Bahasa sebuah Lukisan
Lalu pelukis itu mulai asyik. Kini tampak jemarinya lincah bagai manari-nari di atas sehelai kain kanvas. Ia sedang melukis sebuah pemandangan pantai di kala senja meremang.
Tampak sebuah bukit di kejauhan yang mulai mengelam diselimuti awan senja menghitam kemerahan dan di bawahnya tampak warna laut seolah turut mengelam seakan mengekor suasana senja.
Sedangkan hamparan bebatuan pantai yang mulai turut mengelam di sana-sini, tampak dihiasi oleh buih-buih air.
Di balik bukit mengelam itu, tampak pancaran sinar keemasan, pratanda rembulan perlahan muncul.
Sapaan Kekaguman
“Wah, sungguh indah lukisanmu. Itukah yang kau maksud dengan mengheningkan diri untuk mencari dan mendapatkan sebuah inspirasi? Apakah keindahan itu adalah ekspresi dari hasil pencarian Tuan?”
“Ya, sungguh tepat jawabanmu.”
Bukankah hal ini dapat bermakna, bahwa ada hal-hal yang tidak tampak dan tidak dapat dibuktikan keberadaannya; namun sesungguhnya ada.
Kini, tampak pria penasaran itu mulai mengangguk-anggukan kepalanya. Reaksi itu pratanda entah dia setuju atau tidak. Karena bukankah manusia itu makhluk yang misterius? Ya, anggukan itu dapat saja bermakna tidak, dan juga sebaliknya.
Manusia yang Terjaga
Sesaat kemudian, terdengarlah lontaran spontan dari bibir pria penasaran itu, “Kini saya mengerti, bahwa seluruh realitas ini adalah ekspresi dari wajah Agung Tuhan.”
“Saya baru tahu, karena selama ini hanya percaya pada sesuatu, jika sesuatu itu tampak dan dapat pula dibuktikan secara ilmiah keberadaannya.”
Mari bergurulah selalu kepada hati nuranimu!
…
Kediri, 20 April 2025

