Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya sekeping mentari yang enggan ingkar janji.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Saya ingat dan berkesan dengan sepenggal pertanyaan dari seorang misionaris SVD, asal Polandia.
“Menurut kamu, anak-anak Seminari, siapa atau apa yang paling ‘setia’ kepada kita dan alam semesta ini?”
Banyak jawaban yang dilontarkan para siswa Seminari. Beliau hanya mengatakan, “Semua jawabanmu itu ada benarnya, tapi belum ada jawaban yang paling benar.”
Peristiwa ini terjadi antara tahun 1971/1972, di pulau Flores, NTT.
Sambil merendahkan tubuhnya yang jangkung, dan lewat ekspresi wajah yang tenang kalem itu, beliau pun mengeja sambil berbisik, “Ma-ta-ha-ri.”
Serentak terdengar riuh, hum, ya, ya, ya, ya, … sorak para seminaris.
Matahari… Ternyata, sang mentari!
Banyak ungkapan estetis, juga kalimat berseni, puisi, yang sudah ditulis dan bahkan sudah seolah kelelahan mengagumi keindahan, keagungan, kegunaan, serta misteri agung dari sang matahari itu. Sang mahahari yang setia membangunkan dan membawa kita, hingga kembali ke tempat pembaringan.
Dulu, di zaman kakek nenek kita, mereka menganggap sang matahari itu, bahkan sebagai Tuhan. Ada suku bangsa di dunia ini yang menyebutnya sebagai Sang Dewa. Sedang sang rembulan pun dijuluki sebagai Sang Dewi.
Lewat tulisan ini, kita diajak untuk memandang sang mentari, dari sisi filosofisnya, sebagai ‘simbol kesetiaan’ tiada tara. Dia, bagaikan Ayah dan Bunda kita. Dialah sang penolong yang menghidupkan kita.
Di kala fajar pagi tiba, kaki lelangit semburat bersinar kemerahan. Di kala siang, dia pun ikhlas terangi dan menghangati isi bumi. Di kala rembang petang, seiring gemawan berarak pergi, sang mentari senja pun tetap setia, seakan memohon restu untuk berpamit pulang.
Sungguh setia sang mentari itu. Ciptaan agung yang sanggup menghidupkan kita. Dia pun tidak pernah sirna dari pandangan pun kesadaran kita.
Mari, kita jadikan sang matahari itu sebagai tanda, simbol kesetiaan bagi kita.
Semoga tulisan ini mampu memotivasi, menginspirasi, dan menghidupkan spirit kesetiaan di dalam pelayanan kita kepada sesama.
Bersama sang matahari, kita belajar sikap setia dalam membangun kehidupan ini. Setia, dalam menyinari kehidupan, dan setia pula untuk mengakhirinya.
…
Kediri, 2 Juni 2023

