Oleh Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com – “Manusia, mahkota segala ciptaan.”
Tiga buah pertanyaan abadi, setua usia sang manusia, tentang eksistensi sang manusia itu!
Manusia…,
“Siapakah engkau?”
“Dari manakah engkau?”
“Hendak ke manakah engkau?”
Ketiga pertanyaan filosofis ini, menggetarkan nurani sang manusia yang sungguh mau menyadari eksistensi dirinya.
Pertanyaan-pertanyaan ini, sungguh mendalam serta menukik ke dalam intisari eksistensi sang manusia di atas bumi ini.
Saya jadi ingat akan statemen seorang filsuf agung, “cogito ergo sum”
Saya berpikir, maka saya pun ada. Ini pun mau mendeskripsikan hal eksistensi sang manusia itu.
Atau juga lewat statemen arif sang filsuf Heraclitos, “phanta rei,” bahwa segala sesuatu itu justru terus mengalir, berubah, dan tidak ada yang statis.
Manusia, entah si sang introvert atau pun si sang ekstrovert, dia tetaplah sebagai seorang manusia otentik.
Entah, si sang sanguinis yang riang dan serba gaduh lewat tuturannya, periang tanpa beban serta kekanak-kanakan ini, dia tetaplah seorang manusia otentik.
Entah, si sang pemikir dan pemurung abadi, si sang melankolis yang perasa dan pendiam ini, dia pun tetap sebagai seorang manusia otentik.
Entah, si sang flegmatik, pribadi yang tenang dan seimbang ini, walau pun sering dikesankan sebagai si lamban dan kalem ini, dia pun tetaplah seorang manusia otentik.
Juga, si sang acuh tak acuh, pemaksa dan penyombong, dan sang pekerja keras yang tidak mampu menikmati seni ini, si kolerik, dia pun tetaplah seorang manusia otentik.
Saudara, sesungguhnya, sang manusia itu adalah sebuah misteri besar di jagad hidup ini.
Dia, sang manusia itu memang sulit ditebak kehendak dan maunya. Kadang dia ‘manut’ dan halus lembut, tapi kadang kala dia juga jadi ganas sebagai harimau lapar.
Dia pun seorang pemikir brilian dan penyeimbang yang pantas diagungkan, tetapi sekaligus sebagai perusak dan pembunuh berdarah dingin.
Dia, kadang dijuluki si sang viator mundi, si sang peziarah di atas bumi, yang luntang lantung, walaupun ada yang sempat dinobatkan sebagai santa dan santo yang bahkan rela dan berani mati demi mempertahankan keyakinannya.
Jadi, Saudara, siapakah sang manusia itu?
Dialah sang kekasih Sang Tuhan, walaupun kadang, nasibnya sering ‘bagai telur di ujung tanduk’…
Mari, kita menjadi seorang manusia yang sungguh paham akan eksistensi kemanusiaan sejati kita.
Kediri, 6 Februari 2023

