Malam merangkak menenggelamkan mimpi bocah-bocah.
Di suatu padepokan Antahbrantah, Guru Bijak tengah ngobrol dengan para cantrik. Obrolan mengalir dan sesekali ditimpali tawa.
“Menurutmu, keheningan itu diperoleh di tempat sepi?”
“Tidak selalu…”
“Jadi?”
“Tempat sepi hanya suatu sarana yang mendukung.” Guru Bijak tersenyum. Cantrik itu sumringah.
“Apa yang didapat di tempat sepi, kalau hati kita tertinggal di kota. Keheningan itu juga dapat dicari di tempat ibadah atau diciptakan.”
“Bagaimana bisa di tempat ibadah kalau umat ngobrol sendiri?” tanya cantrik yang lain.
Cantrik itu diam. Ia sendiri merasa sulit beribadah, kalau umat di sebelah ngobrol, berisik, main hp, selfi, bermedsos, dan seterusnya. Apakah beribadah itu mesti mencari tempat sepi? Faktanya, kita sering hilang konsentrasi, karena suasana berisik. Kini, beribadah tidak lebih sekadar kewajiban, jika hilang kesakralannya. Umat ngobrol dan asyik sendiri. Anak-anak dibiarkan bermain, berisik, berteriak dan berkejar-kejaran. Kita seakan tidak peduli?
Kita beribadah tanpa roh; hampa. Kita lupa dan kehilangan hakikat beribadah yang khidmat. Kita tidak mendengarkan khotbah, tapi asyik dengan gawai. Beribadah itu harus bebas dari kesibukan ber-hp-ria. Tapi mencari sumber keheningan, yaitu Yang Ilahi untuk berkomunikasi dan intimasi.
Kita seharusnya menyiapkan diri: hati dan pikiran ini untuk menerima kehadiran Ilahi. Anak-anak diingatkan tujuan beribadah supaya tidak bermain-main, berisik dan mengganggu umat lain. Sejak usia dini mereka harus diajar dan dilatih beribadah yang baik dan benar. Meski tempat ibadah berisik, kita juga dituntut fokus dan konsentrasi supaya tidak terusik.
“Jika kita mau mencari keheningan pergilah di keramaian, bukannya di tempat sepi atau terpencil,” kata Guru Bijak. “Caranya? Ya, kita tinggalkan rutinitas. Kita meluangkan waktu untuk belajar mengendalikan diri dari ego atau emosi supaya pikiran kita hanya tertuju pada sumber keheningan yang Ilahi. Setiap saat kita menghadirkan keheningan itu. Terus belajar secara kontinyu agar kita makin akrab dengan Ilahi.”
“Kita mudah menyatu dengan keheningan, apabila kita selalu mensyukuri, menikmati hidup ini dan menyatukannya pada kehendak Ilahi. Dengan meninggalkan keakuan untuk mengosongkan diri, kita diisi dengan keheningan Ilahi. Sehingga hati ini damai. Kita jadi pribadi yang tidak mudah tersulut emosi, kendati dilecehkan, dihina, atau bahkan direndahkan sekalipun. Mengapa?
Kita mampu berpikir jernih dan mengendalikan diri untuk tidak mudah terpancing emosi. Bukan berarti diam tidak bereaksi itu identik takut atau tidak punya nyali. Melainkan karena kita mampu mengelola perasaan sehingga tidak mudah tersulut emosi. Omongan minir itu tidak layak ditanggapi. Ketika hinaan atau celaan itu didiamkan, maka ia akan berbalik ke penyerang yang bersangkutan.”
“Ngger, kemuliaan seseorang itu tidak didapat dari tingginya suatu jabatan atau harta yang melimpah, tapi, karena ia mampu mengendalikan pikirannya; merubah sumber persoalan jadi hikmah,” tambah Guru Bijak sambil menyeruput kopinya.
Ya, semoga kita semua selalu dibimbing roh pencerahan untuk menemukan sumber keheningan Ilahi.
Mas Redjo

