Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya bekas tapak kaki sang guru sejati yang akan tetap terukir abadi di dasar sanubari sang murid.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Anda dan saya, kita semua, tentu pernah memiliki guru-guru yang telah mengajar dan mendidik kita.
Siapakah seorang guru bagi kita? Siapa pula seorang guru bagi saya dan Anda? Dan siapakah seorang guru bagi Anda, personal? Jawabannya, mungkin saja dapat beragam. Tentu, ada juga jawaban yang sangat spesial serta personal.
Yang pasti, biasanya karakter seorang guru, akan meninggalkan memori tertentu di dalam hati sang murid.
Terkuaknya sejumlah cap atau predikat kepada sang guru, seperti, guru killer, guru cakep, guru motivator, guru bijak, guru sejati, guru agung, guru saleh, tentu atas dasar pengalaman serta memori yang tertanam di dalam kesadaran sang murid.
Kemarin, seorang guru muda, yang pernah berguru bersama saya di sebuah lembaga Katolik di kota Malang, mengirimkan sebuah kisah yang sungguh interisan, tentang betapa arif tindakan sang guru dalam menuntaskan sebuah kasus yang berakhir menawan di hati para muridnya.
Judul kisah itu, “Seni Mendidik.”
Saudara, demikian sinopsis dari kisah itu.
Suatu hari, di sebuah kelas, ada murid yang kehilangan arlojinya. Suasana kelas merunyam dan tidak nyaman.
Sang guru arif itu pun, meminta para muridnya agar mereka berdiri menghadap tembok sambil menutup mata.
Di saat hening itu, sang guru pun mendatangi muridnya satu persatu sambil merogok saku baju pun celana mereka.
Akhirnya, arloji itu oleh sang guru ditemukan di dalam saku celana seorang murid.
Kini, betapa takut dan gentar sang murid itu.
Yang aneh, ternyata, sekalipun arloji itu telah ditemukan, namun sang guru arif itu masih terus berkeliling mendatang setiap murid.
Di kala itu, sungguh menakutkan bagi sang murid yang tahu dan sadar bahwa saat itu, dia akan dipermalukan.
Namun saudara, yang terjadi di luar dugaan. Sang guru agung itu tidak pernah mengumumkan hasil penggeledakannya itu. Tentu, tak seorang pun, baik guru atau pun murid yang mengetahui, siapa sesungguhnya yang telah mencuri arloji itu.
Suatu hari, sang guru hebat itu menghadiri sebuah pesta, dan kebetulan ada mantan muridnya turut hadir di tempat itu.
“Selamat bertemu Pak guru, masih ingatkah pada saya,” sapa sang murid yang mencuri arloji. “Maaf, saya tidak mengingatmu lagi, Nak,”
“Loh Pak, saya, yang telah mencuri arloji itu, dan bapa telah menemukannya di dalam saku celana, saya.”
“Maaf, saya tidak ingat dan juga tidak tahu. Karena, saat itu, saya pun ‘menutup mataโ.
Saudaraku, inilah sebuah proses serta suatu cara arif, bagaimana teknis menuntaskan sebuah kasus, yang akhirnya tidak melukai hati para murid. Inilah sebentuk kearifan, bagaimana teknik pendekatan mendidik yang dapat meninggalkan kesan manis serta tidak melukai murid.
Nah, bagaimanakah cara paling ideal, agar di dalam proses pendidikan, sang guru tidak melukai hati sang murid.
Bertindaklah arif serta bijaksana. Datangi murid, berdialoglah dengan akrab dan ramah. Bersikaplah terbuka dan jujur dengan tetap menghargai murid.
Di balik itu, kelak, kita pun akan menikmati hasil pendidikan lewat kearifan para mantan anak didik kita. Mereka dapat bersikap arif, justru karena telah diperlakukan secara arif.
Maka, jejak langkah sang guru arif, akan senantiasa terukir abadi di dalam hati sang murid.
Inilah sebuah seni mendidik!
…
Kediri,ย 8ย Meiย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

