Oleh:,Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Biar Anda murtad, biar
Anda lupa Tuhan, biar
Anda jahat, tapi Tuhan
tetap sayang dan
mencari Anda.”
(Khotbah Sang Imam)
Anda dan Keluarga
Kita, Anda pun saya, kita semua tentu berasal dari salah sebuah keluarga, dari ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan keluarga di dunia ini. Apa pun kondisi keberadaannya. Kita, yang berperan sebagai orangtua, serta juga sebagai anak-anak.
Sejarah peradaban umat manusia telah membuktikan, bahwa banyak tokoh besar dan ternama dunia yang justru berasal dari sebuah keluarga. Juga tidak sedikit pula, anak-anak dan keturunan yang hancur berantakan; yang juga berasal dari sebuah keluarga.
Khotbah Sang Imam
Tulisan refleksi yang sarat bernuansa kemanusiaan ini, bertolak dari isi dan amanat sebuah khotbah interisan dari seorang Pastor yang berasal dari Eropa.
Dikisahkan, bahwa ada sebuah keluarga ideal yang memiliki empat orang anak (putra dan putri). Mereka itu kini, masing-masing telah dewasa dan menekuni jalan serta panggilan hidup masing-masing.
Ketika sang Ibu ditanya, “Bagaimana keadaan serta kondisi dari masing-masing anak?” Maka, dijawabnya …
- Si Sulung, kini telah jadi seorang Pastor hebat yang sangat sibuk serta berjasa bagi jemaat.
- Yang kedua, yang tak kalah hebat, jadi seorang Biarawati, ia memimpin sekolah ternama dan sangat dikenal oleh masyarakat.
- Putra ketiga, dia jadi seorang tentara sebagai abdi negara, yang sibuk membela negara. Kini dia berpangkat Letjen bintang tiga.
- Sambil mengurut dada dan bermata sembab, Ibu itu berkata, “Yang keempat, dia telah murtad. Sekalipun di masa kecilnya telah dididik dan diarahkan dengan baik. Dia, telah mengambil jalannya sendiri di luar dugaan kami.”
Ibu yang Berhati Emas
Setelah tuntas mendengarkan jawaban sang Ibu, terkesan suasana seolah terbelah. Mengapa? Ada pendengar yang menampakkan wajah cerah gembira dan ada juga yang mengekspresikan wajah duka serta kecewa.
Tiba-tiba terdengar sebuah celetuk, “Bu, lupakan saja si Bungsu itu. Anggap saja Ibu tidak pernah punya anak keempat yang bertingkah polah seperti itu.”
Sahutan Ibu itu, “Bisakah seorang Ibu melupakan darah dagingnya, seorang putra yang telah turun dari rahim tulusnya?”
Bahkan dengan gaya dan semangat yang berapi-api, disambungnya, “Biarpun kami berbeda jalan dab pendapat, serta dia dianggap telah salah berlangkah, saya justru terus mendoakannya. Saya terus merindukannya. Saya pun ingin merangkulnya siang pun malam.”
“Mungkin saja, ketiga orang saudara tuanya, justru iri hati, karena sikap saya terhadapnya; tapi saya akan tetap menantikan kembalinya.”
Sekeping Hati seluas Samudra
Kualitas sekeping hati dari seorang manusia hebat justru seringkali akan bertolak belakang dengan pandangan masyarakat umum.
Sikap Hati Berbela Rasa
Mengapa? Mereka memiliki kelenturan budi dan hati yang terbentang seluas samudra. Juga mereka tidak memandang sebuah realitas hanya atas dasar hitam dan putih. Benar dan salah. Baik dan buruk. Atau pantas dan tak pantas. Namun, mereka mampu melihat lebih jauh, dari aneka kemungkinan, dari sisi yang lebih luas dan mendalam. Itulah kualitas dari sekeping hati yang berbelas kasih.
Menghadapi realitas rumit serupa ini, apa sikap batin Anda? Bagaimana cara Anda menyikapinya?
…
Kediri, 13 Desember 2024

