RedJoss.com – Tiada hari tanpa mengeluh, sambat, nyinyir, protes, menghujat, dan sumpah serapah. Siapa yang tidak melakukannya?
Semua orang tentu pernah melakukan. Bahkan merupakan hal yang biasa, lalu menjadi kebiasaan jelek. Tidak sedikit di antara kita yang mengidap penyakit kronis itu.
Kronis?
Ya! Cobalah bertanya pada diri sendiri dan sikapi dengan jujur. Seberapa banyak setiap hari kita melakukan hal di atas? Seberapa parah dan menahunnya kita menilai negatif orang lain.
Pertanyaannya, apakah kita mau dinilai buruk, negatif, bahkan dihakimi?
Jika tidak, tidak seharusnya kita menilai negatif orang lain, apalagi menghakiminya.
Coba untuk dipikirkan pula.
Apa untung dan manfaatnya, ketika kita nyinyir, sambat, atau mengeluh?
Tidak ada. Mengeluh, sambat, atau nyinyir itu juga tidak menyelesaikan masalah.
Adalah kebohongan besar, ketika kita marah dada ini serasa plong, longgar, dan seakan beban yang menekan hilang. Kenyataannya, ketika sadar diri, penyesalan itu muncul dan mengganggu hidup kita. Dadanya ini semakin menyesak, tertekan, dan ngap.
Sesekali lihat ke cermin.
Ketika kita nyinyir, mengumpat, atau marah. Bagaimana dengan ekspresi wajah kita sendiri?
Apa akibatnya, jika mulut, mata, atau anggota tubuh yang lain protes untuk tidak mau kembali pada tempatnya, karena kita marah, nyinyiri orang, dan seterusnya…
Maukah kita melihat wajah sendiri? Mata melotot mau ke luar, mulut merot, hidung mekar, atau jari menuding kaku. Dan tidak mau kembali ke tempat semula.
Bayangkan lagi, ketika kita mengambil barang yang jatuh dengan kaki. Bagaimana perasaan tangan kita? Juga reaksi Allah yang mengkaruniai kita dengan tubuh yang normal tentu sedih…
Apapun alasannya, mengeluh, komplain, sambat, nyinyir, dan hal negatif lainnya itu tidak membuat keadaan semakin membaik, bahkan meracuni hati sendiri.
Sebaliknya, jika kita selalu berpikir positif dan berprangsaka baik, kita mampu melihat hikmah di setiap masalah, dan peluang di setiap tantangan. Hidup pun tanpa beban.
Dengan bersyukur, kita hidup ikhlas dan bahagia. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

