Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Saudara, hendaklah engkau jangan lupa mati, karena itu adalah hak serta kewajibanmu.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Kata-kata berupa petuah petitih pada sub judul (di atas), adalah sebentuk ironi alias kritikan halus. Bahkan dapat pula menjurus ke bentuk eufemisme alias penghapus nilai rasa bahasa.
Dialog para Pelupa
Seorang pemuda pernah menulis sepucuk surat cinta kepada kekasihnya. Dia sangat ingin untuk mendapatkan jawaban yang pasti dari sang kekasih yang telah dilamarnya.
“Clara, sayangku! Maafkan saya yang sudah jadi sangat pelupa. Kemarin malam saya telah melamarmu, namun saya sungguh lupa, apakah kamu menjawab ya atau tidak?”
“Will, sayangku. Senang sekali, ketika saya menerima suratmu. Saya tahu bahwa saya telah menjawab ‘tidak’ kepada seseorang kemarin malam, tapi maaf saya lupa, kepada siapa itu.”
(Bruno Hagspiel)
1500 Cerita Bermakna
Demikian suasana hidup di antara dan di tengah kita para pelupa. Itulah nasib kita sebagai pribadi pelupa. Semua peristiwa hidup jadi kian rumit dan tersendat, karena para pelaku sentralnya justru para pelupa.
Hidup itu bagai Sepotong Teka Teki
Hidup ini juga ibarat sepotong teka teki. Sebuah permainan hidup yang mengisyaratkan, bahwa kita, manusia terbatas ini, kadang-kadang dapat bersikap sangat konyol, justru, karena kita telah lupa akan sebuah kesepakatan atau janji.
Aneka Janji Palsu
Bahkan janji untuk sehidup semati pun kadang-kadang dilupakan juga.
Kemarin, mereka berjanji akan hidup setia hingga maut memisahkan. Eh, tahu-tahu pagi ini, keduanya saling memunggung dengan berurai air mata.
Seminggu yang lalu, keduanya bersumpah akan melunasi utang, tepat pada waktunya. Ee, setelah sebulan, saat ditagih, malah dijawab, maaf, karena saya lupa menuliskan tanggal pelunasannya.
Sebulan yang lalu, keduanya sambil berapi-api dan seia sekata akan menyimpan rapat-rapat sebuah rahasia hidup. Eh, ternyata seorang di antaranya justru dengan gagah perkasa telah membocorkannya.
Juga setahu yang lalu, keduanya pernah berjanji akan selalu saling memaafkan, jika ada yang bersalah. Eh, di awal tahun baru ini, keduanya malah bersikap ibarat kucing dengan tikus, karena sikap mendendam.
Apa Maunya Manusia
Apakah saudara masih menyimpan syair lagu favorit di negeri kita, “lain di bibir lain di hati?”
“Memang lidah itu tak bertulang, tidak terbatas kata-kata, โฆ tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati.”
Bukankah sebuah janji adalah setumpuk utang? Janji adalah utang!
Antara Berjanji dan Bersumpah
Keduanya memiliki kadar dan nilai-nilai: kebenaran, kesetiaan, kebaikan, serta ketulusan sejati.
Yang semuanya itu bersumber dan bermuara pada nilai-nilai luhur kepada Tuhan dan sesama.
Sebuah janji atau sumpah memiliki nilai dan ikatan moral spiritual yang bernilai luhur.
Jadi, hendaklah kita tidak mudah untuk segera melupakan ikatan, berupa janji atau sumpah dalam bentuk apa pun di dunia ini.
…
Kediri,ย 22ย Oktoberย 2024

