Sore jam 17.30 sepulang ngirim barang, saya kembali mengirim barang dengan sopir. Ada pelanggan yang minta dikirim plastik malam itu juga. Roti terlanjur diproduksi, tapi plastik bungkusnya habis.
Keanehan kedua, kiriman plastik dari pabrik 20 bal yang ditaruh di ruang tamu. Ketika kita menaikan ke mobil ternyata berkurang 1 bal. Padahal plastik itu ukuran khusus, dan tidak dijual untuk umum. Kita menyusunnya perukuran agar memudahkan untuk mengontrol dan mendistribusikan.
Kita lalu mengambil stok dari dalam garasi 6 bal, karena pelanggan minta dikirim 25 bal! Kita menghitung bertiga: saya, istri, dan sopir. Kita lalu menutupnya dengan terpal mobil 2 lapis supaya tidak basah jika kehujanan.
Keanehan ketiga, ketika plastik kita turunkan di pabrik roti. Semula 25 bal … ternyata hanya ada 23 bal! Seketika itu tubuh saya merinding. Bagaimana bisa raib, karena kita tidak berhenti di jalan? Di mana hilangnya?
“Dik, ada yang ngerjain kita,” cerita saya pada istri sepulang mengirim barang. Istri saya kaget.
“Siapa yang menjahati kita?!”
Saya menghela nafas berat. “Serahkan dalam doa!”
Doa? Ya, dengan berdoa kita menjadi kuat. Pikiran negatif itu kita buang jauh-jauh agar tidak meracuni hati dan melemahkan semangat dagang. Semua itu kita serahkan sepenuhnya pada penyelenggaraan Tuhan.
Prinsip kita, “kekuatan cinta keluarga mampu meredam pengaruh sehebat dan sejahat apapun! Yang penting, keluarga kita selalu adem tentem & damai. Kita selalu menghindari perselisihan atau konflik keluarga. Untuk saling mengalah, menguatkan, mendukung, dan saling mengasihi satu sama lain.”
Tuhan yang memberi & Tuhan pula yang mengambil. Sehebat apapun kekuatan jahat, jika Allah hendak memberi, siapa mampu menghalangi?
Bagi kita, benteng rumah tangga yang paling kokoh adalah ikatan kasih anggota keluarga di dalam nama Tuhan. Sekaligus yang membebaskan kita dari pengaruh jahat. (MR)
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

