| Red-Joss.com | “Sesekali, atau sering kali kita menjumpai keadaan rumah yang berantakan bak kapal pecah. Apa dan bagaimana reaksi kita?”
Kita kaget, jika rumah yang biasa tertata rapi itu berantakan. Bisa juga bersikap masa bodoh, karena sejak semula rumah kita biasa berantakan.
Hal itu yang saya jumpai akhir-akhir ini. Istri tidak beberes rumah, padahal ia pulang kerja lebih awal, dibandingkan saya.
Bisa jadi istri banyak pekerjaan di kantor dan kecapaian, pikir saya. Saya lalu beberes sendiri, karena saya senang melihat rumah yang bersih dan tertata rapi. Selain itu, saya ingin meringankan tugas istri, dan membahagiakannya.
Ternyata istri sering abai dengan tugas dan kewajibannya. Bukankah pribadi asli seseorang itu biasanya muncul, setelah menikah? Ketika pacaran semua tampak baik dan indah itu sekadar kamuflase?
Jujur, saya tidak mau berprasangka buruk pada istri. Lebih baik terbuka dan membiasakan diri untuk terus terang bertanya agar tidak ada ganjalan di hati, dan semua jadi ‘clear’. Tanpa curiga dan tanpa beban.
Jangan meragukan pasangan kita, karena dia itu pilihan dan jodoh kita. Apalagi, bagi kita yang menjalani hidup dengan selalu menyertakan Allah, baik dalam perencanaan, berbicara, dan berperilaku.
Mempunyai pasangan itu jodoh dan anugerah Allah yang harus dijaga, dihargai, dihormati, dan harus kita pertanggungjawabkan hingga maut memisahkan. Saling setia, karena Allah membenci perceraian!
Sesungguhnya, tujuan pernikahan suci itu untuk saling melayani dan membahagiakan satu dengan yang lain.
Tidak untuk saling menyalahkan dan menghakimi. Tapi untuk saling mengalah, mengingatkan, sabar, mengasihi, dan rendah hati.
Seusai beberes rumah, ketika saya meluruskan kaki di depan tv, istri muncul dari kamar. Lalu berdiri di sampingku.
“Capai ya,” katanya sambil memijit punggung saya.
“Ya, tergantung. Bekerja sebagai beban itu capai. Jika melakukan dengan sukacita, ya, kita hepi.”
“Maaf, ya, saya malas-malasan,” akunya jujur sambil menatapku. “Mas tahu sebabnya?”
Saya ganti menatapnya, lalu menggeleng. Sekali lagi tersenyum manis, sehingga saya makin penasaran.
“Saya positif, Mas. Hamil…”
Saya membelalakkan mata. Istri saya menggangguk.
“Saya tadi beli tespec, dan positif. Tapi besok saya ke dokter. Mas anterin, ya, …” katanya manja sambil menyandarkan kepalanya ke bahuku.
Aku mengiyakan. Kupeluk istriku, saking bahagia.
…
Mas Redjo

