| Red-Joss.com | Ucapan salam dari Yesus yang bangkit itu teramat pas dengan situasi dan kondisi yang dialami oleh para murid.
Di satu sisi, mereka bersukacita atas kabar kebangkitan-Nya. Tapi di sisi yang lain, mereka takut, bingung, dan penasaran dengan yang terjadi itu. Memori mereka tidak bisa cepat untuk menangkap makna peristiwa yang sesungguhnya.
Yesus tahu dan bisa memberikan langkah yang amat tepat. Ucapan salam damai itu dimaksudkan untuk mengkondisikan situasi batin mereka. Pertama-tama untuk menyambut Dia yang bangkit itu dibutuhkan “hati dan ruang yang benar-benar damai”. Jika tidak miliki ruang hati, maka berita besar itu tidak akan sampai kepada yang lain.
Salam damai itu dimaksudkan juga agar mereka bisa berdamai dengan situasi yang terjadi. Rasa sakit hati, jengkel, atau marah yang memenuhi kehidupan mereka di sekitar pengadilan, penyiksaan, penyaliban, dan kematian Yesus.
Kini Yesus yang bangkit mengajak mereka untuk berdamai dengan pengalaman-pengalaman itu. Sehingga berita lain yang lebih besar dan penting bisa dibagikan kepada yang lain.
Bukankah kita sendiri juga sering mengalami hal-hal ini. Misalnya, ucapan salam damai dari orang lain, tidak mengubah apa-apa. Yang penting kita tersenyum, melambaikan tangan, atau sekadar membalas salam hormat itu. Sehingga pesan kebangkitan Yesus yang kuat itu bagai kehilangan maknanya, dan seperti tinggal seremonial saja.
Coba dipikirkan lagi, bagaimana sapaan Yesus yang bangkit, salam damai itu agar memberikan daya ubah pada hidup kita.
Caranya? Kita diajak makin peka dengan pribadi-pribadi di sekitar kita, apa yang sedang dialami oleh mereka? Tangkaplah itu dengan rasa iman. Sehingga yang kita ucapkan, akan memberi rasa yang berbeda untuk mereka. Meski hal itu mudah dilakukan, faktanya kita sering tidak melakukannya. Hal ini terjadi saat kita berjumpa dengan siapa pun. Ucapan salam itu sering terlupakan, sebabnya:
- Karena gengsi.
- Kita tidak mau direpotkan.
- Pasif dan menunggu disalami lebih dulu.
- Takut dan merasa tidak pantas.
- Takut ditolak dan tidak diterima.
- Malu.
So, akhirnya, sepanjang perjumpaan atau dalam suatu acara kita tidak bisa saling menyapa. Sehingga hilang kesempatan yang baik itu. Lucunya kita ini tidak mau menyapa, tapi maunya disapa dulu,.
Lebih baik dan bijak, jika kita jadi pribadi-pribadi yang spontan dan ramah dalam menyapa. Kita sudah diajari oleh Yesus yang menyapa dengan membawa berita yang mendamaikan. Sapaan kita untuk siapa pun harus membawa pesan yang mendamaikan. Sebab pesan damai adalah pesan yang penting, apalagi untuk kondisi masyarakat kita seperti sekarang ini: dibutuhkan kedamaian di mana-mana.
“Salam damai dan bahagia untukmu.”
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

