oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Jangan memahami kehadiran Tuhan sesuai isi kepalamu saja.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Sudah sangat sering di dalam hidup beriman, kita ternyata telah menempatkan eksistensi Tuhan sebagai sesuatu yang sangat jauh dari jangkauan kesadaran kemanusiaan kita. Ternyata kita hanya mampu menyadari keberadaan Tuhan sebagai sesuatu yang sangat jauh dan abstrak. Dampaknya, bahwa mata hati kita sangat sulit untuk melihat kehadiran Tuhan dalam diri sesama kita. Teristimewa sesama kita yang sedang menderita.
Menunggu Datangnya Tuhan
Suatu hari Tuhan berjanji kepada seorang Nyonya tua, bahwa Dia akan mengunjunginya hari itu.
Maka, segera Nyonya tua itu merapikan dan menata rumahnya, agar lebih layak menerima Tuhan.
Lalu dia duduk dengan hati yang berdebar-debar. Tak lama berselang, terdengar ada ketukan sangat halus pada daun pintu rumahnya.
Segera dan dengan hati yang berdebar kencang, maka dibukanya pintu itu. Ternyata, yang kini berdiri mematung di hadapannya, seorang pengemis. “Jangan, jangan kau datang hari ini, pergilah. Saya sedang menanti kedatangan Tuhan.” Maka, pergilah pengemis itu.
Tak lama berselang, kembali terdengar bunyi ketukan kedua. Dengan tak bersabar hati, Nyonya tua itu membukakan pintu. Apa yang dilihatnya? Di depannya berdirilah seorang miskin. “Maaf saudara, saya sedang menunggu Tuhan. Saya tidak bisa membantu kamu hari ini.” Maka, segera beranjaklah si miskin itu.
Dalam beberapa waktu berselang, ketika resahnya kian memuncak, maka sekali lagi terdengar bunyi ketukan di pintu. Kali ini, Nyonya itu menduga, tentu, pasti ini ketukan dari Tuhan.
Di saat tanganya menggenggam erat gagang pintu sambil jantungnya berdegup kian kencang, eh, ternyata, ada seorang pengemis yang compang-camping sedang menatap tajam kepadanya. “Oh segera tinggalkan tempat ini. Saya sedang menunggu Tuhan!” Maka, pengemis itu pun beranjak pergi.
Waktu demi waktu pun berlalu, tapi Tuhan belum datang juga. Akhirnya Nyonya itu terlelap.
Dia pun bermimpi. Tuhan menghampirinya sambil berkata, “Aku, telah tiga kali datang ke rumahmu, tapi kamu selalu mengusir Aku.”
Alangkah terperanjatnya Nyonya tua itu. Kini, betapa sesal dan remuk hatinya.
Konon sejak itu, siapa saja yang datang ke rumah, sekalipun itu orang asing, maka akan diterima dengan senang hati. Karena diyakini, bahwa itu adalah Tuhan sendiri.
(Willi Hoffsuemmer)
Lalu apa yang kita pahami dan hayati lewat kisah ini? Apakah Anda juga bersikap demikian? Hal apa yang dapat dipetik sebagai amanat agung dari kisah rohani dan manusiawi ini?
Apakah setelah mencermati dan memahami pesan spiritual lewat kisah ini, Anda juga akan membuka gerbang nurani Anda dan percaya, bahwa semua realitas penderitaan yang dialami sesama kita, justru Tuhan sendiri yang mengalaminya?
Antara Sikap: Simpati, Empati, dan Bela rasa
Sejatinya, bukankah sikap batin Nyonya tua di dalam kisah ini juga mewakili sikap batin kita?
Mari kita terus belajar untuk menajamkan dan mencerdaskan ruang batin hidup kita: (simpati, empati, bela rasa), agar kita mampu menangkap sinyal kehadiran Tuhan lewat penderitaan di sekeliling kita.
Bukankah makna dari “setangkai tangan terulur tidak selalu berarti meminta sepiring nasi, namun juga memberi sejumput kasih?”
…
Kediri, 6 Desember 2024

