“Senangnya diterima, tapi susahnya ditolak. O, tidak! Senang dan susah itu harus disyukuri sebagai karunia Tuhan.” -Mas Redjo
…
Kata-kata Ibu yang lirih dan jelas itu menghunjam jantungku, ketika saya menjenguk suaminya di rumah.
Dalam gurat wajahnya yang letih itu saya merasakan keteguhan hatinya yang tulus dalam mendampingi suaminya ke luar masuk RS untuk berobat.
Tidak ada keluhan, apalagi sesal. Kecuali berserah pasrah dan setia kepada kehendak Tuhan.
“Saya amat bersyukur, Bapak senantiasa menyemangati kita agar berusaha untuk tidak merepoti dan bergantung pada anak-anak. Tapi untuk mandiri.”
Sebagai tetangga dekat, saya melihat jelas semangat perjuangan Bapak M dalam memandirikan anak-anaknya itu lewat teladan hidupnya. Bapak M yang ringan tangan itu selalu memberi contoh dengan tindakan nyata.
Dari Bapak M, saya belajar untuk jadi pribadi yang mudah bersyukur.
Tidak komplain untuk menyalahkan atau mencari kesalahan orang lain.
Tidak mengeluh, karena keluhan itu tidak menyelesaikan masalah, tapi makin memberati beban di hati.
Tidak menuntut orang lain untuk berubah, lebih bijak itu kita belajar beradaptasi untuk berubah sendiri, dan jadi baik.
“Sekarang Bapak tidak sakit lagi,” kata istri Bapak M, ketika pagi tadi saya melayat ke rumahnya.
Saya manggut mengiyakan. Saya amati tubuh Bapak M yang terbujur di peti mati itu. Wajahnya cerah dan tersenyum tipis. Ia seperti sedang tertidur pulas dalam damai.
“Sugeng tindak, Pak. Berbahagialah dengan Para Kudus di Surga,” bisik saya lirih.
…
Mas Redjo

