Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pernahkah Anda bertanya kepada diri sendiri, sudahkah saya jadi seorang sahabat yang sempurna bagi sesamaku?”
(Suara Kebijaksanaan Sejati)
Mengagumi Sahabat Terbaik
Pernahkah timbul sebuah pertanyaan paling kritis dan arif dari dalam dirimu? “Apakah selama ini, aku ini sudah jadi seorang sahabat yang terbaik bagi sesamaku?”
Karena di suatu hari, seseorang pernah berkisah kepadaku, “Sahabat, saya telah menjumpai seseorang yang sangat baik. Ia pribadi yang nyaris sempurna, karena ia setia, pandai, sabar, pemaaf, murah hati, dan tidak pelit.”
“Ah sahabatku, berbahagialah Anda, jika ternyata kelak Anda bisa bersahabat dengan dia, bukan?”
“Oh, ya, sahabatku. Apakah kamu juga sudah menjalin tali persahabatan dengan dia?”
“Belum, sahabatku.”
“Mengapa tidak segera?”
“Ya, Jangan-jangan ia juga sedang mencari seorang sahabat yang sempurna?”
(Dari Berbagai Sumber)
Kerinduan dari setiap Manusia
Di bumi ini, orang-orang selalu sibuk untuk mencari serta mengidolakan sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Apakah sesuatu itu, berupa: harta kekayaan, sebuah profesi, jabatan terhormat, karya besar, prestasi cemerlang, seorang sahabat yang sempurna, atau juga pangkat serta kedudukan sosial yang terhormat.
Tentu semua kerinduan itu adalah sesuatu yang lumrah dan sangat wajar untuk diperoleh. Tapi, fakta hidup telah membuktikannya, bahwa sejatinya, semua kerinduan itu pun tidak gampang untuk diraih.
Jadilah Dulu sebagai Sahabat Terbaik
Bahkan untuk mendapatkan seorang sahabat yang terbaik itu ternyata tidaklah sekadar membalikkan telapak tangan Anda. Dalam konteks ini, tentu sebaiknya, Anda sendiri dulu yang harus jadi seorang sahabat yang terbaik sebelum Anda mencita-citakannya, bukan?
Antara yang Insting dan yang Rasional
Dalam hidup konkret ini, sering kali dapat terjadi benturan, antara sebuah insting atau naluri manusiawi dengan sesuatu yang bersifat rasional. Mengapa demikian? Ya, karena keduanya memang bertolak dari kedua unsur yang berbeda.
Dalam ilmu filsafat dan psikologi, unsur naluri dan rasional adalah dua konsep yang berbeda. Naluri merujuk pada sesuatu yang berasal dari insting, intuisi, atau perasaan yang tidak diproses secara sadar. Ini adalah sebuah respons otomatis yang tidak melewati proses berpikir logis.
Sedangkan rasionalitas merujuk pada sesuatu yang berdasarkan pada logika, alasan, dan pikiran yang sistematis.
Anda dan saya perlu memahami, jika dalam proses hidup persahabatan, ternyata tidaklah selalu berjalan mulus sesuai dengan idealisme Anda. Inilah sebuah fakta riil yang perlu disadari.
Dalam konteks ini, unsur utama dan pertama yang perlu dibangun adalah kesadaran personal untuk terlebih dahulu jadi diri sendiri. “Jadilah seorang sahabat terbaik bagi diri Anda sendiri, baru Anda dapat jadi seorang sahabat sempurna bagi orang lain.”
Refleksi
- Alter ego est amicus: (Sahabat adalah diriku yang lain).
- Vera amicitia est inter bono:
(Persahabatan terbaik hanya terjadi di antara orang-orang yang tulus).
Kediri, 2 Desember 2025

