“Semua itu ada masanya dan akan berakhir. Untuk dilepas agar kita tidak dibuai dan dijerat masa lalu yang menyakitkan.” – Mas Redjo
…
Bagi kita, untuk melepaskan kenikmatan atau ketakutan itu tidak mudah. Tapi yang utama dan pertama adalah kita sadar diri untuk pahami makna dan hakikat tujuan hidup ini.
Begitu pula saat tidak seorang pun dari anak saya mau meneruskan usaha keluarga.
Kaget dan shock?! Tidak, karena saya menyadari dan memahami. Bahwa semua itu ada masanya dan harus dilepas ikhlas.
“Sayang sekali, usahanya sudah mapan,” itu komentar dari banyak teman. Tapi saya tidak berkomentar dan menanggapi hal itu, kecuali diam. Anak-anak itu mempunyai rezeki sendiri. Kita tidak harus takut dan khawatir tentang hidup mereka. Tapi serahkan segala kekhawatiran itu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kita (1 Petrus 5: 7).
Ketika memutuskan untuk mundur, saya mengumpulkan anak-anak. Toko itu mau diteruskan atau ditutup. Jika diteruskan, siapa yang mengurusi?
Bukan karena saya jenuh dan capai mengurusi, melainkan saya ingin meneruskan dan memaknai hidup ini serta menikmatinya. Perlahan, tapi pasti kelekatan pada duniawi itu harus dilepas ikhlas.
Begitu pula dengan aset keluarga. Saya juga tidak mau pusing atau dipusingi. Dengan berbincang dari hati ke hati bersama anak-anak untuk mencari solusi dan jalan ke luarnya.
Begitu pula saat saya memutuskan untuk mudik, menetap di kampung. Saya menjual aset yang tidak produktif itu untuk ditukar dengan rumah yang kecil agar gampang mengurusinya. Sisa uangnya saya belikan surat berharga. Selain untuk membantu pemerintah, bunganya lebih besar dibandingkan dengan bunga deposito. Kebutuhan makan orangtua juga tidak banyak.
Semua itu terencana, karena saya kelola hidup dengan baik sebagai pertanggung-jawaban saya kepada Tuhan, Sang Pencipta.
Saya dan istri juga tidak merasa takut dan khawatir dalam menjalani dan menikmati masa tua agar berguna dan bermakna bagi sesama.
Anak-anak saya beri pengertian dan diteguhkan hatinya. Karena di manapun kita bertempat tinggal, tetangga itu adalah keluarga yang terdekat. Tujuannya, agar mereka melepas kita dengan ringan hati. Yang penting kita bisa membawa diri dan beradaptasi dengan warga. Sehingga, jika kita membutuhkan bantuan atau pertolongan, mereka dengan senang hati membantu.
Sejatinya, tetangga itu adalah sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara” (Amsal 18: 24).
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15: 13).
…
Mas Redjo

