Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mengapa harus malu mengatakan tidak tahu? Setengah dari ilmu pun akan tetap kukatakan, aku tidak tahu.”
(Peribahasa Arab)
…
Mengapa
kau merasa serba tahu
Surga, kau merasa tahu
Neraka, pun kau merasa tahu juga
Kebaikan,
kau merasa tahu
Kejahatan, pun kau merasa tahu
Dalam heran anganku
Aku
cuma mau numpang tanya
maaf, apa yang kau tidak tahu?
(Pada Sepotong Catatan)
Refleksi:
Kelak, kamu akan menjumpai tipe manusia yang paling eksklusif. Dia selalu merasa serba tahu atas apa pun di atas bumi ini. Bahkan, hal-hal di luar pemahaman manusia pun, dia merasa tahu juga!
Saya teringat lagi akan sebuah kisah dari Arab.
Alkisah, seorang pria diutus kaumnya dengan membawa dan akan mengajukan 40 soal hal agama. Setibanya di kota Madina, dia menemui ulaman terbaik dan termashur, Imam Malik.
Ternyata, dari 40 pertanyaan yang sudah diajukan, hanya empat pertanyaan yang dijawab sang Imam. Sisanya, 36 pertanyaan, dijawab dengan perkataan, “Saya tidak tahu.”
“Wah Imam Malik, jika demikian, apa yang harus aku sampaikan kepada kaumku?”
“Katakanlah, Malik tidak tahu.”
Saudara, saat mengingat kembali penggalan kisah agung ini, spontan merinding tubuhku ini.
Betapa agung, jujur, serta tulusnya sang Imam ini. Kapan saudara, kita akan menjumpai lagi, sosok pribadi agung, di bumi maya ini?
Tatkala dunia ini dilanda bencana keangkuhan serta aksi membusung dada fana, ternyata, masih ada tipe manusia yang semulia ini.
Di zaman kita ini, zaman sinting, gila, dan serba edan ini, sehari-hari kita selalu disuguhkan dengan secangkir anggur merah kebohongan. Juga, kepada kita pun disodorkan seketus roti hoaks.
Mencerca, memaksa, mencela, dan bahkan hingga berani meludahi wajah sesama manusia atas nama kebebasan serta demokrasi palsu. Bahkan, ada yang lebih menggila lagi, orang berani berbicara bohong seolah mewakili Sang Tuhan.
Saudara, akan tiba saatnya, gerbong culas kereta keangkuhanmu itu akan dicampakkan ke dalam dapur api!
…
Kediri,ย 9ย Juniย 2023

