Red-Joss.com – Negeri antah berantah heboh. Gara-garanya seorang korban dijadikan tersangka. Padahal korban itu meninggal dunia.
Alibi pembelaan berkumandang, simpang siur, dan bersahut-sahutan, sehingga menimbulkan kegaduhan di seluruh pelosok negeri.
Kisahnya, konon demi menjaga kehormatan dan nama baik keluarga, seorang suami dengan keji mengkorbankan anak buahnya sendiri. Kabarnya, orang itu telah melakukan pelecehan seksual pada istrinya.
Berita itu akhirnya sampai juga ke telinga Baginda, dan jadi geram. Bagaimana mungkin korban yang meninggal dunia itu dijadikan tersangka?
Baginda lalu mengumpulkan orang pilihannya untuk mengungkap misteri itu agar tidak jadi aib bagi negeri Antah Berantah.
Adalah Ki Demang yang diberi tugas dan kepercayaan itu. Ia lelaki bersahaja. Tapi otaknya cemerlang bagai meteor.
Dengan ilmu olah batin tingkat tinggi, Ki Demang lalu menghubungi orang kepercayaan yang bakal dimintai tugas rahasia untuk mengungkap peristiwa itu.
Astaga! Ia terperangah mendapati kenyataan di lapangan. Dari data di lapangan ditemukan kesimpang-siuran dan tumpang tindih peristiwa yang sebenarnya. Bahkan terjadi manipulasi yang mendiskreditkan tersangka yang telah meninggal dunia itu.
Dengan bersikap lembut penuh cinta, Ki Demang mengumpulkan bukti-bukti. Ia menaruh hormat dan nguwongke mereka yang dimintai keterangan agar merasa diayomi.
Ternyata sebagian dari mereka disuruh menghapus jejak dengan membuang fakta kebenaran di lapangan, dan bersumpah bohong. Mereka diintimidasi oleh ketakutan, karena hidupnya bakal dibuat menderita.
Beruntung, ada orang kepercayaan Ki Demang yang mempunyai ilmu olah batin yang mumpuni, sakti mandraguna, dan mampu menerawang masa lampau maupun masa depan. Kendati data itu telah dibuang, disamarkan, atau dihapus, tapi terdeteksi oleh mata batin orang yang arif dan bijaksana itu.
Untuk mengumpulkan kepingan demi kepingan kejadian yang sebenarnya dan menyatukannya kembali jadi satu kesatuan yang utuh itu, Ki Demang juga memanfaatkan orang yang jago hipnotis. Alasannya, orang yang munafik dan memiliki karakter pembohong itu sulit terdeteksi kebohongannya. Berkata bohong ibarat nafas hidupnya. Tapi, dengan menghipnotis, saksi itu bakal tidak sadar diri, ketika diinterograsi. Sehingga mengatakan semuanya itu dengan jujur dan benar.
Ki Demang makin optimistis. Ia akan mematahkan alibi yang dibangun oleh kroni-kroni para tersangka itu. Sejak awal ia telah curiga. Tidak mungkin korban itu melakukan kekhilafan, kehilangan rasa hormat pada junjungan perempuan, dan melecehkannya.
Interograsi lewat jalan hipnotis pada para saksi dan tersangka dimulai secara mendadak dan serentak di ruangan yang berbeda antara yang satu dengan lainnya.
Astaga, ternyata mereka telah didoktrin untuk mengatakan kebohongan sebagai kebenaran. Jawaban mereka satu dengan yang lain saling tumpang tindih dan tidak beraturan, bahkan saling bertolak belakang.
Astaga! Gara-gara iri dan benci telah membakar hati dan menggelapkan mata. Hubungan akrab junjungan perempuan dengan bawahannya disalah-pahami oleh hati yang iri dengki. Sehingga terjadi tragedi kemanusiaan.
Skenario jahat pun terpatri dalam kemunafikan. Tapi alam bawah sadar tidak bisa dibohongi untuk membuka kebenaran.
Beban penyesalan itu teramat berat, dan datang selalu terlambat.
…
Mas Redjo
Tulisan ini pernah ditayangkan di seide.id dengan beberapa pembaruan.

