Red-Joss.com – Apa reaksi kita saat dicuwekin, disepelekan, diremehkan, dan bahkan dihina oleh orang?
Ketika kita reaktif membalas, hal itu menunjukkan kita gagal dalam mengontrol dan penguasaan diri. Kita terlalu lemah, karena ego ini cenderung dominan. Dengan membalas, kita melampiaskan emosi. Akibatnya, hati ini terluka sendiri. Bisa jadi juga, hubungan kita dengan orang itu makin buruk, saling membenci, dendam, dan sakit hati.
Berbeda hasilnya, jika kita tidak bereaksi atau menanggapi komentar, nyinyiran, dan hinaan itu. Bukan karena takut, melainkan kita sadar diri. Kita juga tidak rugi, atau terluka. Sehingga tidak ada gunanya ditanggapi. Lebih baik kita mengambil hikmahnya, karena hidup itu amanah.
Faktanya, hal itu yang sering kita jumpai di lingkungan sekitar. Ketika orang lain sukses lalu disiriki itu hal biasa. Dikatakan piara ‘tuyul’ atau pesugihan itu juga tidak aneh. Padahal, sesungguhnya mereka itu pekerja keras yang ulet, hemat, dan rajin menabung.
Apa pun nyinyiran, celaan, atau hinaan orang, itu tidak perlu ditanggapi. Hal itu hanya membuang-buang energi dan kontra produktif. Lebih baik mereka didoakan, dan kita menjalani hidup ini dengan hepi.
Begitu pula yang saya alami. Ketika saya membeli ruko, saya dibodoh-bodohi, dibilang sok kaya, dan gede gengsi. Karena rumah saya kontrak. Saya tersenyum sabar sesabarnya. Mereka melihat dari luar, menilai dan menghakimi orang lain dengan kacamata sendiri.
Mereka tidak tahu, tujuan saya membeli ruko lebih dulu, ketimbang membeli rumah. Karena ruko itu untuk usaha, berdagang. Itu juga kredit lewat bank. Saya harus mendulukan usaha yang lebih produktif, berprospek, dan menguntungkan. Selain itu, rumah kontrakan saya juga dekat dengan toko. Sehingga mobilitas usaha juga jadi makin mudah.
Sekali lagi, segala nyinyiran dan cibiran itu tidak perlu ditanggapi. Karena kita yang menjalani. Kita juga tidak perlu menjelaskan hal itu pada mereka.
Sama halnya, saat kita mempunyai niat dan kehendak baik, tapi tidak ditanggapi atau dihiraukan orang lain. Kita tidak harus kecewa dan sakit hati. Niat dan kehendak baik itu dapat kita alihkan pada orang yang menerima dan membutuhkan. Kenapa harus sakit hati mengurusi hal-hal yang kontra produktif itu?
Hidup itu amanah, jika berguna bagi sesama. Prioritas utama dan yang terpenting itu dimulai dari perubahan diri sendiri agar hidup kita makin baik, dan lebih baik.
Kita tidak harus membuktikan dan menunjukkan perubahan itu pada orang lain, tapi pada diri sendiri. Kita mampu dan bisa melakukan semua itu, asalkan kita bertekun, fokus, konsisten, dan atas seizin Allah.
Tetaplah rendah hati agar hidup kita diberkati, dan bahagia.
…
Mas Redjo

