Setiap perpisahan itu selalu menggoreskan kesedihan. Sedih, karena canda tawa, gurauan, dan kebersamaan yang terjalin sebelumnya itu berakhir. Padahal, kita selalu berharap, bahwa kebersamaan dengan segala dinamika di dalamnya itu tetap abadi; terus dialami dari waktu ke waktu. Namun, tidak demikian dengan kisah perpisahan Yesus dan murid-murid-Nya dalam cerita Injil pada perayaan Kenaikan Tuhan ke Surga. Dikatakan bahwa, “ketika la sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke Surga. Mereka sujud menyembah Dia, lalu pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita” (Luk 24: 51-52).
Pertanyaannya: “Mengapa mereka, murid-murid, bersukacita?”Jawabannya adalah, karena Yesus menjanjikan Roh Penghibur yang kita rayakan pada peristiwa Pentakosta nanti. Roh itulah yang membangkitkan sukacita dalam diri para murid dan juga kita yang hidup saat ini. Roh itu menyertai dan menuntun kita pada jalan kasih.
Roh itu memampukan para murid untuk jadi “saksi-saksi-Ku di Yerusalem, seluruh Yudea dan Samaria, dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1: 8).
Mari kita membuka hati untuk menyambut Roh itu dalam hidup. Biarlah Roh itu yang meraja atas hidup kita, bukan roh dunia yang sering kali menciutkan nyali kita untuk mewartakan kebaikan Tuhan, roh dunia yang membuat kita kehilangan sukacita.
“Ya Tuhan, utuslah Roh Kudus atas kami agar kami menjadi baru dan penuh keberanian untuk mewartakan kebaikan kasih-Mu. Amin.”
Ziarah Batin

