Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Demi terciptanya relasi harmonisasi semu dan upaya meminimalisasi konflik, maka kita pun rela menghalalkan segala cara”
(Amanat Hidup Sejati)
…
| Red-Joss.com | Dari mana datangnya budaya ewuh pakewuh ini?
Diduga kuat fenomena basa-basi ini mencuat ke permukaan sejak zaman pascareformasi. Di mana kecenderungan para presiden terpilih untuk merangkul semua tokoh politik, termasuk rivalnya, saat kampanye. Demikian Yes Sugimo, dalam kolom Surat kepada Pembaca Kompas (30/4/3024).
Apa itu budaya ewuh pakewuh? Dalam bahasa Sansekerta, ‘ewuh’ bermakna repot, dan ‘pakewuh’ bermakna tak enak rasa. Dalam kultur Jawa, dimaknakan sebagai penghambat atau kendala tidak berjalannya proses perbedaan pendapat dan pemberdayaan masyarakat.
Jika dipandang dari aspek etimologis, dapat disimpulkan, bahwa penerapan budaya ‘ewuh pakewuh’ dalam masyarakat Indonesia, justru bertolak belakang dengan azas berdemokrasi. Bukankah Indonesia dikenal sebagai salah sebuah bangsa berdemokrasi terbesar di dunia?
Seperti yang ditulis oleh Yes Sugimo, bahwa budaya ‘ewuh pakewuh’, yang bersumber dari mental feodal itu masih tumbuh subur dan mengalir deras lintas generasi Indonesia.
Jikapun ada perbedaan karakter antar daerah, nuansanya tipis sekali dan tetap menganut pola patriarki dalam menyelesaikan masalah atau konflik.
Akhirnya semua perbedaan bisa diredam atas nama musyawarah, roh demokrasi yang terdoktrin mendarah daging di segenap lapisan masyarakat, sejak anak kenal bangku sekolah, masuk dunia kerja, hingga bermasyarakat,” demikian Yes Sugimo.
Kini menjadi nyata dalam masyarakat kita, bahwa budaya ‘ewuh pakewuh’ ini justru telah bertumbuh subur.
Lihat saja pada fenomena para presiden kita, baik yang lama (Megawati Sukarno Putri hingga kini Prabowo Subianto) (2024) ini, tampak sangat sibuk berpetualang mencari dukungan, bahkan juga di kandang lawan politiknya.
Fenomena apalagi ini? Dampaknya, para pemimpin kita justru memerintah di atas dasar pondasi rapuh. Karena di dalamnya hadir pribadi-pribadi yang justru hanya mau mencari makan dan demi kenyamanan serta kesempatan demi dirinya sendiri.
Riskannya, bahwa roh dari budaya ini, justru anti pada perbedaan pandangan dan pendapat. Orang akan segera bersepakat demi meredam konflik.
Dari sudut gelap inilah budaya komunal yang sifat dasarnya sekadar asal tahu sama tahu itu justru bertumbuh kian subur.
Maka, cermatilah pada fenomena aksi saling melindungi antar para petinggi, jika ada pribadi yang terendus, bahkan terbukti sebagai koruptor.
Sebagai warga bangsa dan negara, kita ternyata telah menguburkan roh demokrasi sejati dengan menumbuhsuburkan budaya ‘ewuh pakewuh’.
Ironisnya, bahwa sang pembunuh demokrasi di negeri yang tampak sangat saleh ini, justru oleh para pemimpinnya.
…
Kediri, 4 Mei 2024

