Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Lidah-lidah tulus reruncing pucuk cemara telah menggedor dan
merayu-rayu gerbang suci.”
Simbol Kerinduan Nurani
Lancip dan lurusnya pohon cemara dikenal sebagai simbol ketulusan serta kerinduan nurani sejati manusia. Kemoleng sendu rindu pepucuknya itu seolah-olah sedang memagut-magut dedaunan gerbang Surga suci.
Itulah lelambaian dan jejilat lidah-lidah pepucuk cemara menjulang sebagai simbol kerinduan nurani kita manusia. Ya, itulah kerinduan abadi manusia untuk kembali ke sumber dan asalnya.
Pucuk-pucuk runcing lidah nan merayu itu kini tampak kian asyik menyapu gerbang Surgawi lewat sendu rindunya. Ya, sungguh betapa rindu nurani manusia untuk bersatu dengan Tuhan. Itulah kerinduan sejati untuk kembali bersatu dengan sang sumber asal dan tujuan hidupnya.
Lidah Manusia bersama Lidah Bala Malaikat Surga
“Pujilah Tuhan wahai segala bangsa. Biarlah semua ujung lidah manusia dan bala Malaikat Surgawi memuji dan memuliakan Tuhan,” demikian seruan sang kebijaksanaan sejati.
“Hanya orang-orang hidup yang dapat memuji dan memuliakan nama Tuhan,” demikian seruan Kitab Suci. Memuji dan memuliakan Tuhan adalah kodrat dan naluri suci manusia di dunia serta para Malaikat di Surga.
Kidung Pujian dari Pucuk Ujung Lidah Maria
“Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah Juru Selamatku,” demikian seruan Kidung Maria. Di dalam konteks ini, Bunda Maria sungguh menyadari akan kodrat kemanusiaanya untuk senantiasa memuji dan memuliakan Tuhan.
Ujung Pucuk Lidah Kita
Semoga ujung pucuk lidah Anda dan saya pun bersorak-sorai untuk memuji dan memuliakan Tuhan, kini dan selamanya.
“Hendaknya langit bersukacita dan bumi bersorak-sorai di hadapan wajah Tuhan, karena Ia sudah datang!”
Wolotopo/Ende, 22 Juni 2025

