| Red-Joss.com | Setiap kali aku sendiri, mempunyai masalah atau persoalan hidup, aku selalu ingat Ibu. Meski Ibu telah tiada, tapi senantiasa hidup di hati ini. Karena aku dekat sekali dengan Ibu.
Aku dekat, teramat dekat dengan Ibu, karena ia selalu ada dan hadir untuk membimbing, mengarahkan anak-anaknya. Sehingga kami jadi pribadi yang mandiri.
Dari Ibu pula, imanku diteguhkan. Ketika aku bermaksud merantau ke Ibukota. Ibu meminta, agar aku berjuang untuk jadi garam dan terang dunia yang bersumber dari teladan Yesus.
Dengan jadi garam agar aku ramah, luwes bergaul, dan menyedapkan hubungan dengan sesama.
Dengan jadi terang dunia agar aku tidak bosan berbuat baik, apa pun kendalanya. Aku dituntut untuk komitmen, konsekuen, dan rendah hati.
Tahun 1984 aku dikenalkan teman untuk ikut Legio Maria, organisasi Kerasulan Awam yang berpusat di Dublin, Irlandia.
Dengan jadi legioner, laskar Bunda Maria, aku mencoba mengenal Ibu Kerahiman Ilahi agar makin dekat, khususnya untuk memurnikan motivasi dalam melayani.
Tujuan motivasi itu dimurnilan agar kita melayani sesama dengan tulus hati dan ikhlas.
Tenyata pengaruh Bunda Maria itu besar sekali dalam hidupku.
Bagaimana tidak. Bunda Maria sungguh teladan umat beriman yang luar biasa. Aku mengagumi pengendalian diri Bunda Maria, Ibu yang terberkati itu. Ia “menyimpan perkara iman itu dalam kerendahan hatinya.”
Ketika Bunda Maria menerima ‘Kabar Gembira’ dari Malaikat Gabriel. Yesus yang dicari selama beberapa hari itu ditemukan di Bait Suci (Luk 2: 41-52). Lalu Bunda Maria mendampingi penderitaan Putera-Nya memanggul salib ke Golgota, hingga wafat di salib.
Ketika aku mempunyai masalah atau persoalan hidup, apalagi, jika berbeban berat, aku ingat dengan Ibuku dan Bunda Maria.
Ingat Ibu, aku menghadapi apa pun persoalan hidup ini jadi tenang, sehingga aku dapat berpikir jernih dengan hati yang bening. Dengan menyederhanakan masalah, semua serasa mudah dan diurai tuntas.
Bersama Bunda Maria, aku berdoa untuk membawa masalah dan beban hidup itu ke dalam doa penyerahan kepada Allah. Aku belajar berserah untuk memahami rencana dan kehendak Allah dalam hidupku.
Bersama Bunda Maria pula, imanku makin diteguhkan untuk jadi sabar, tabah, dan rendah hati.
Semangat rendah hati yang harus dimiliki umat beriman agar makin dekat dengan Allah dan mengasihi sesama.
…
Mas Redjo

