Ketika kebenaran atau fakta suatu peristiwa itu diungkapkan secara terbuka dan terang-terangan, tanggapan yang datang biasanya tidak selalu seragam: ya atau tidak. Ada tanggapan menyambut dan menyetujui, juga tanggapan lain yang tidak setuju dan menolak. Tapi ada pula tanggapan yang samar-samar atau tidak jelas, setuju atau tidak setuju. Dengan kata lain, kita tidak mungkin menyenangkan dan memuaskan semua orang sekaligus.
Yesus pun tidak diterima semua orang. Kotbah pertama Petrus yang dikelilingi para Rasul dan murid lain dipercaya bernasib sama. Tapi teks Kisah Para Rasul itu menonjolkan bagian orang yang setuju dan menerima ajaran Injil Yesus Kristus yang disampaikan. Bagian kotbah pada hari Pentakosta berbunyi demikian: Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu jadi Tuhan dan Kristus. Secara spesifik respons orang-orang Yahudi yang mendengarkan kotbah itu ialah hati mereka sangat terharu. Mereka bertanya kepada Petrus dan para Rasul tentang yang perlu dilakukan sebagai kelanjutan dari rasa haru itu.
Mereka memahami isi kotbah itu dengan pikirannya, dan terbawa di dalam perasaan haru. Selanjutnya ialah kemauannya yang sudah terbuka untuk diisi. Yang bertugas mengisi ialah pembawa Kabar sukacita dalam hal ini ialah para Rasul. Keterbukaan itu tidak serta-merta diisi dengan pengakuan dan tindakan iman. Keterbukaan hati dan pikiran itu memungkinkan sebuah proses bertumbuhnya iman yang sesungguhnya. Selanjutnya diperlukan ialah pertobatan, pembaptisan dalam nama Yesus Kristus sebagai pengampunan dosa, dan pencurahan karunia Roh Kudus.
Jadi dalam konteks kotbah pertama tentang Injil Yesus Kristus itu telah membuahkan sebuah tanggapan mendasar dari orang-orang yang percaya. Di dalam kehidupan Gereja, kita menyebutnya sebagai tiga Sakramen Inisiasi, yaitu “pembaptisan, komuni kudus, dan penguatan.” Ketiganya merupakan tahap awal dan mendasar kehidupan Kristiani serta menggereja.
Firman Tuhan yang didengar dan diterima mengarahkan seseorang pada pembaharuan arah hidup. Lalu ia dipersiapkan menerima pembaptisan yang membuatnya bertemu dan melihat Tuhan secara pribadi. Bahkan ia dipanggil namanya seperti Yesus yang bangkit menyebut nama ‘Maria’ dalam peristiwa penampakan. Ini layaknya pengalaman menerima Tuhan secara pribadi seperti Komuni Suci. Selanjutnya penguatan iman yang diterima dan diakui itu melalui pencurahan Roh Kudus di dalam Sakramen Krisma.
“Ya, Tuhan Yesus Kristus, semoga kami tidak luput dari mengenali-Mu secara benar dan sungguh-sungguh melalui pewartaan firman-Mu setiap hari. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

