“Mudah membuat resolusi, tapi sering ingkar janji.” – Rio, Scj
Hari baru tinggal hitungan jam berganti. Waktu terus berjalan, kita juga tidak dapat mengendalikan. Mensyukuri pengalaman dan berkat Tuhan adalah respon yang bisa kita lakukan. Menyesali diri juga tidak merubah keadaan, tapi yang penting itu memperbaiki dan membuat resolusi setiap hari adalah peluang.
Buatlah resolusi, agar langkah hidup ini diterangi dan pantas untuk disyukuri. Hari demi hari berganti agar kita makin meningkatkan imun dan iman, supaya aman.
Setiap tantangan itu hendaknya dijadikan peluang. Jika kita biasa bangun siang, mulai esok hari bangun pagi. Dari mudah marah menjadi penyabar. Yang malas menjadi rajin bekerja. Semangat perubahan itu harus jadi pemacu diri sendiri agar hari-hari ke depan kita makin baik, dan bertambah baik lagi.
Sesungguhnya, kita tidak hanya membuat resolusi, tapi yang utama itu menepati janji dan diwujudkan ke dalam realita sebagai bukti.
Ingat waktu terus berpacu, mau sampai kapan kita lari dari kenyataan. Kita membuat resolusi asalkan tidak seperti kembang api, heboh dan seru, tapi cuma sebentar habis itu mati. Kita jangan membuat resolusi untuk dipajang sebagai status agar di-like banyak orang. Lebih bijak kita memberi bukti dalam kerendahan hati, ketimbang jadi tong kosong yang permalukan diri sendiri.
Benar, dalam hidup itu harus mempunyai mimpi. Coba ingat dan instrospeksi apa yang sudah kita lakukan hari-hari yang. Jika kita belum berhasil jangan patah semangat, karena tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi. Wujudkan resolusi dengan strategi dan aksi. Maka hidup kita dari hari ke hari makin termaknai. Saatnya kita mewujudkan mimpi.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

