“Bekerja cerdas dengan hati. Ikhlas itu berkualitas dan tuntas.” -Mas Redjo
Ketika hendak aktif menekuni karya sosial sebagai relawan, yang pertama dan utama adalah saya menyiapkan hati untuk komitmen, konsekuen, konsisten, dan totalitas.
Saya sadar-sesadarnya, bekerja dalam karya sosial itu sumbernya dari hati: panggilan untuk melayani dan ikhlas. Jika tidak, kita mudah mengeluh, kecewa, terluka, sakit hati, dan pergi untuk menghilang selamanya alias tidak aktif lagi.
Bagi relawan, jika pekerjaannya itu dicela, diremehkan, dihina, dan bahkan dicurigai adahal hal biasa. Kita tidak harus bereaksi untuk menyanggah, membela diri, atau balik menyerang pencela itu. Kita harus sabar, tabah, dan rendah hati. Kita harus mawas diri, dan berbesar hati untuk memaafkan serta mendoakan mereka. Karena mereka tidak tahu yang dikatakan dan diperbuatnya.
Sadar diri, adalah keutamaan jiwa mereka yang bekerja dalam karya sosial agar kita tidak mendua hati. Maksudnya, karena ingin namanya dipajang, tapi tidak mau bekerja. Atau sekdar mencari kesempatan dalam kesempitan: ingin populer, terkenal, dan memanfaatkan karya (jabatan) itu untuk berbisnis serta memperkaya diri.
Jika ada rekan yang menyimpang dan berbuat curang itu tidak untuk diikuti, tapi ditanyai dan diingatkan dengan hati-hati agar tidak terjadi salah paham dan konflik. Alangkah bijak rekan itu didoakan agar Tuhan menjamah hatinya untuk segera sadar diri.
Untuk berhasil dalam karya sosial itu yang utama adalah kita harus berjiwa melayani dan fokus pada tujuannya, yakni Tuhan Yesus yang bergantung di kayu salib. Kita menghadirkan belas kasih-Nya kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25: 40).
Mas Redjo

