Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Ada “sesumbar,” tobe are not tobeโฆ “Jika Anda sungguh berniat tulus, buktikan dengan berani memotong tanganmu sendiri!”
Sesumbar heroik ini, toh di dalam sejarah peradaban dunia, telah terbukti di negeri tirai bambu Cina.
Adalah sang “Huike,” mantan panglima perang dalam suatu Dinasti di Cina. Jenderal Huike, di masa pensiunnya, merasa sangat bersalah kepada kemanusiaan, karena pada masa aktifnya sebagai panglima perang, dia telah membunuh banyak musuh dengan pedangnya.
Dia pun berniat untuk hidup membiara demi menebus utang-utang kemanusiaan di masa lalunya. Niat itu pun akhirnya terwujud, dan dia pun menjadi seorang bhiksu Budha.
Namun sayang, seribu sayang. Biara itu bukan tempat berkumpulnya orang-orang stres atau pun sebagai tempat bersembunyi bagi para pelarian sekadar demi kenyamanan batinnya. Tidak, biara itu tempat para bhiksu bersemadi dan berdoa sebagai bentuk persembahan diri kepada Sang Pencipta.
Sang Huike pun meninggalkan biara, pergi mencari dan ingin menjadi pengikut dari seorang guru yang sangat tenar, karena saktinya.
Dia, akhirnya bertemu dengan sang guru idolanya itu.
Namun, sayang sejuta sayang. Sang guru sakti, sang “Bodi Dharma,” namanya, tidak asal menerima seorang calon murid.
Maka, dilontarkannya sejumlah statemen argumentatif kepada calon muridnya itu.
Beranikah kamu, mengikuti jalan suci Sang Buddha dengan meninggalkan kebiasaan lamamu? Juga, beranikah kamu, mengikuti ajaran suci sang Budha lewat jalan tapa serta mati raga?
Mendengar tantangan itu, jiwa tulusnya bagai dibakar api mentari. Dia pun sangat marah, merasa ketulusannya diremehkan.
Maka, apa yang dilakukannya? Disibaknya lengan jubahnya, dicabutnya pedangnya, lalu disorongkannya tangan kirinya, dan dipotongnya dengan pedangnya.
Saudara, inilah tindakan konyol sebagai bukti tekad tulusnya. Sang Huike mau membuktikan, bahwa dia sungguh tulus mau mengikuti ajaran Sang Guru Bodhi Dharma.
Inilah sebuah adegan drama tragedis. Sebuah pembuktian yang sungguh mengharukan hati. Aksi pembuktian yang sungguh meyakinkan sekeping nurani, siapa pun yang menyaksikan peristiwa heroik itu.
Berani dan relakah Anda dan saya, untuk memotong tangan kehidupan kita sendiri, demi mempertahankan dan membuktikan sebuah ketulusan?
Berani memotong tangan sendiri adalah sebuah tindakan heroik yang hanya dapat dipahami lewat lorong nurani tulus.
Sang Huike, ternyata tidak membuktikan ketulusannya lewat kata-kata, namun justru lewat sebuah tindakan nyata!
…
Kediri,ย 7ย Maretย 2023

