Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Hidup adalah proses kesetiaan dan ketulusan untuk memikul beban hidup yang berlangsung dari waktu ke waktu.”
(Didaktika Hidup Sadar)
…
Sang Sisiphus
Pernahkah Anda mendengar sebuah kisah heroik tentang Sisiphus yang dengan setia mendorong sebuah batu besar dari saat ke saat, karena siksaan dari Dewa? Dia disiksa oleh para Dewa untuk mendorong sebuah batu besar dari sebuah lembah menuju ke puncak sebuah gunung. Namun sebuah kenyataan pahit yang rela dipikulnya dengan setia itu, ternyata sangat menantang dan menguji kadar kesabaran serta sikap tahan ujinya. Mengapa tidak?
Ketika batu raksasa yang didorongnya itu sudah mendekati mulut gunung, namun sayang, karena ternyata dia kehabisan tenaga. Maka, tidak pelak batu itu kembali menggelinding ke dasar lembah. Kini, sekali lagi didorongnya batu itu dengan segenap kekuatannya. Tubuh berpeluh dan dahaga serta perut lapar itu sungguh menantangnya untuk berhenti sejenak. Namun hal itu tidak mungkin dapat dilaksanakannya, karena bukankah dia adalah seorang yang terhukum?
Dalam kondisi tenaga yang sangat terbatas, dia terus mendorong batu raksasa itu. Namun, kali ini, sekali lagi, ternyata batu itu kembali menggelinding ke dasar lembah. Apa yang terjadi dan apa pula yang segera dilakukannya? Kali ini, dia kian bertekad untuk segera menuntaskan siksaannya itu. Sehingga pada kesempatan terakhir, ternyata batu itu kembali berguling ke dasar lembah.
Kesetiaan yang Tiada Taranya
Inilah potret riil dari sesosok figur yang sangat sadar, konsisten, dan tulus untuk menanggung beban penderitaan, karena kesalahannya sendiri. Inilah pula gambaran dan ekspresi tulus seorang yang rela serta bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepadanya. Semoga gambaran dari kesetiaan dan ketulusan bersikap ini sanggup menjiwai hidup serta karya di sepanjang hidup bakti kita. Di dalam realitas hidup kita telah terbukti, bahwa ternyata tidak banyak sosok pribadi yang memiliki tekad tulus dan kesetiaan untuk menjalankan tugas hidup seberat ini.
Sebuah Tindakan Absurditas
Sadarkah Anda, bahwa ternyata kita ini dari saat ke saat, dari hari ke hari, bahkan dari tahun ke tahun telah dan akan terus dan selalu memikul beban tugas yang sama? Pernahkah kita kritis bertanya, bahwa hingga kapan beban tugas ini akan berakhir? Jika kita berani menoleh dan rela mau belajar dari para pendahulu kita, ternyata mereka telah melewati garis hidup yang paling pahit dan sangat menantang ini. Maka, apakah hal ini bukan merupakan sebuah tindakan absurd?
Ya, sebuah tindakan yang sudah terus-menerus dilakukan, namun tidak pernah akan ada ujung pangkalnya alias tidak pernah habis dan berakhir, bukan? Bukankah hal ini sebuah tindakan yang sia-sia? Apakah hal ini adalah sebuah kewajiban atau sekadar untuk memenuhi tuntutan, karena kesalahan kita? Jika memang harus demikian, kapan akan berakhir?
Didaktika Hidup
Sejatinya lewat pergulatan panjang dari Sisiphus dan juga oleh para pendahulu kita, maka aspek didaktika hidup apa yang dapat kita petik dari sana? Nilai-nilai luhur apakah yang tersajikan di dalam konteks pergulatan ini? Apakah nilai luhur dari kesetiaan dan sikap konsisten serta sikap pantang menyerah? Ya, sepantasnya lewat kisah heroik ini, kita dapat memetik pengajaran mulia dari aspek kemanusiaan kita.
Kita m diajak untuk berani bertekuk lutut dan rela mengangkat topi atas keteguhan, kesetiaan, dan ketulusan dari Sisiphus serta para pendahulu kita. Lewat kisah heroik ini, mereka secara tidak langsung telah mengedukasi serta melatih kita untuk sudi bersikap ikhlas, rendah hati, dan pantang menyerah.
Bukankah orang-orang yang sudi belajar dari pergulatan sesama adalah pribadi-pribadi yang rendah hati dan tawakal? Merekalah para pahlawan besar yang patut kita banggakan! Semoga kesetiaan dan ketulusan hati mereka sanggup menjiwai segenap hidup serta perjuangan kita!
“Marilah kamu semua, belajarlah padaku, karena Aku lemah lembut serta rendah hati!” demikain kata Sang Guru Agung kita.
…
Kediri, 9 Januari 2025

