“Rumah ini Bapak berikan tidak untuk kalian, tapi untuk cucu-cucu Bapak. Apa salah?”
Kata-kata Pakdhe, atau tepatnya Ayah angkat istriku itu menjungkir-balikkan kesombonganku. Harga diriku.
Bagaimana tidak. Sejak semula aku telah menolak, sebaiknya rumah itu diberikan pada saudara yang lebih membutuhkan. Karena aku telah mempunyai rumah, meski kecil dan di kampung.
Jujur, aku tidak mau famili yang lain iri dan cemburu pada kami. Istriku adalah keponakan Pakdhe, yang sejak lulus SD ikut Pakdhe dan telah dianggap seperti anak sendiri. Karena Budhe dan Pakdhe tidak dikaruniai anak.
Selain itu sikap orangtua angkat istriku yang sejak kami pacaran itu tidak setuju alias menentang, hal itu sungguh melukai hati. Pekerjaanku yang karyawan biasa itu dianggap sebelah mata, dan diremehkan!
Karena ditentang dan prasangka buruk itu yang membuatku ngotot dan tidak ambil peduli. Meskipun sesekali terlintas juga di hati. Apa ada orangtua yang ingin anaknya hidup menderita?
Kekhawatiran orangtua itu wajar. Mereka juga belum mengenalku dengan dekat. Tapi tak seharusnya mereka menjaga jarak, jika aku ke rumah, bahkan ‘dicuwekin’.
Kekonyolan yang lain lagi adalah, ketika aku dan keluarga diminta pindah ke rumah Pakdhe. Bahkan kedua anakku telah didaftarkan untuk pindah ke sekolah swasta tanpa menunggu persetujuanku!
“Apa salah, jika Bapak menyiapkan sekolah yang baik untuk mereka?”
Sesungguhnya aku ingin menolak dan berontak, tapi tatapan mata lembut istriku itu membuat emosiku runtuh.
Ternyata Pakdhe, atau Ayah mertua itu ingin pulang dan menetap di kampung halaman. Karena sebulan lalu makam Ibu telah dipindahkan ke makam keluarga di kampung.
Karena kesombongan, harga diri, dan gengsi, aku tidak mau diajak pindah ke rumah Ayah, dan kumpul dengan istri serta anak. Alasanku, rumahku kosong tidak ada yang menunggui. Sehingga hari Sabtu dan Minggu aku praktis kumpul bersama keluarga.
Setelah Ayah pulang dan menetap di P, perlahan tapi pasti, kesadaran di hati ini muncul. Apalagi, ketika aku memposisikan diri sebagai orangtua yang tidak dikaruniai anak. Anak menikah dan pindah rumah itu serasa ambil diambil, dan orangtua merasa kehilangan. Duh…!
Sadar diri, karena diperhatikan dan disayangi oleh Ayah, akhirnya aku dan keluarga selalu menyempatkan diri untuk menengok Ayah di P. Aku memberanikan diri meminta maaf pada Ayah, karena kesombongan dan gengsiku yang tinggi itu. Aku juga mohon ampun pada Tuhan.
Rekonsiliasi yang luar biasa dan indah.
Kini Ayah telah berpulang. Untuk mengenang Ibu dan Ayah, kelak, jika cucu yang lahir itu perempuan, aku mau memberi nama Baptisnya Ibu. Jika laki-laki, nama Baptis Ayah.
Ibu dan Bapak, rumah itu sekarang ditempati oleh cucu dengan istrinya.
Semoga Ibu Bapak bahagia di Surga
Mas Redjo

