“Hidup yang tidak direfleksikan itu tidak pantas untuk dihidupi.” – Socrates
…
| Red-Joss.com | Cermin adalah salah satu benda yang selalu dicari manusia. Minimal 2 kali, bahkan ada yang puluhan kali dalam sehari bercermin. Ada juga yang sebentar-sebentar bercermin. Cermin menjadikan diri lebih PD, cermin menyajikan diri apa adanya. Dia apa adanya menggambarkan yang ada di depannya.
Dalam ilmu psikologi bercermin adalah salah satu bentuk ‘self-reflection’. Koreksi diri, melihat ekspresi wajah, mengamati diri sendiri yang asli; hidung pesek, rambut keriting, pipi jerawatan, keriput, dan sebagainya. Bercermin bukan hanya soal kerapian dan penampilan, melainkan ‘self-reflection’.
Paling tidak ada tiga proses ‘self-reflection’ dari bercermin:
Pertama: Acceptance – menerima. Melihat diri dengan cermin membuat kita sadar dan menerima kekurangan dan kelebihan. Ternyata ada banyak kelebihan yang perlu disyukuri. Tuhan luar biasa menciptakan kita. Selain kelebihan pasti juga ada kekurangan, karena membandingkan. Terimalah dan syukurilah. Tidak perlu menyalahkan cermin atau bahkan memecahkan cermin
Kedua: Adapt – adaptasi. Dengan segala kelebihan, kekurangan, kecantikan, kegantengan, dan kelebihan lainnya beradaptasilah. Ketika penerimaan terjadi, rasa syukur tumbuh, maka hal berikutnya adalah beradaptasi. Dalam hal ini adalah berani mengembangkan potensi dan talenta. Beradaptasi untuk memperbaiki yang kurang.
Ketiga: Achievement – Kesuksesan. Potensi dan talenta yang telah disyukuri itu dikembangkan untuk meraih kesuksesan. Setiap bercermin katakan “kita dapat, kita harus dapat melakukan itu.” Berusahalah dengan tekun, Berharap dan bermimpilah dengan iman, dan lakukan dengan kasih. Niscaya kesuksesan akan mendatangimu. Mimpi itu jadi kenyataan.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

