Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Detak detik gemulai
sederet waktu berjingkrak
rindu pamit meninggalkan segumpal kenangan paling pekat”
(Geliat sang Waktu)
Puisi
Ada
sepotong duka tersayat berdarah meresap pada setetes rindu dalam secangkir dahaga mengkristal pada secarik misteri yang setia menggeluti cemas ini.
Masihkah
sepoi berita angin duka setahun silam kan kembali bergegas pulang di musim semi ini?
Atau
ia kan turut tercabik terusik bersama sejingkrak daun kalender beku?
Oh,
sang kehidupan
sudilah memboyong pergi semua berita duka dari dinding sadar ini
(Pada Sepotong Catatan)
Ulasan tentang Makna Kalender
Kalender sebagai penanda waktu, kadang-kadang dapat dimaknakan sebagai penanda rezeki atau kemalangan dalam hati manusia. Manusia pun akan memandangnya sebagai suatu bagian penting untuk mengukur dan menghitung hari-hari hidupnya!
Secara kronologis, hidup dan mati manusia, berada di atas selingkar waktu dan setitik tempat. Makhluk manusia sadar, bahwa dirinya memang sangat terikat pada aspek waktu dan tempat.
Terasa sang waktu seolah bergegas terbang meninggalkan manusia, yang ternyata masih saja terseok tercecer di atas pusaran waktu dari saat ke saat hingga ajal datang menjemputnya. Maka, sadarilah selalu, bahwa semua peristiwa itu berlangsung sekilas di atas relungan lingkaran waktu dan tempat.
Dalam realitas hidup ini, tak jarang pula, bahwa manusia ditimpa kedukaan yang justru kian menyayat kalbunya. Silih berganti pula suka dan duka datang menghiasi arena kehidupan anak manusia yang sangat singkat ini.
“Urip iku mung mampir ngombe,” demikian sebuah filosofi Jawa yang mendeskripsikan, bahwa sungguh, hidup ini ibarat sekadar numpang untuk mencicipi secangkir kopi.
Camkan!
“Janganlah engkau sekali-kali, mau melupakan untuk sesaat kembali menatap pada makna terdalam dari secarik ‘Kalender Kumal’ yang terpampang di dinding sadar dari kehidupanmu!
Refleksi
- Hendaklah kita sungguh mau memanfaatkan waktu yang ada ini dengan perbuatan baik di dalam pengharapan akan cinta dan belas kasih Tuhan.
- “Dum vita est, spes est”
(Ketika masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan).
Kediri, 6 Desenber 2025

