Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dalam diam akhir, kita menemukan suara yang paling lantang: kesadaran akan eksistensi kita”
(Suara Sang Kebenaran Sejati)
Dalam diamnya akhir, kita akan menemukan suara yang paling lantang: kesadaran akan eksistensi kita. Seperti dedaunan yang gugur, setiap akhir akan membawa kita pada sebuah pertanyaan, “Apa artinya hidup ini?”
Kala Saat itu Tiba
Kala saat itu tiba, tak perlu lagi ada ba bi bu be bo
Kala waktu dijemput itu tiba
Jangan lagi mau berkilah
Kala detik-detik itu diguyur cemas
Segera liliti seutas kafan pada tubuh cemasmu
Kala itu memang nyata
Ingatlah pesan Sang Hidup
“Di rumah Bapa-Ku banyak tempat
Aku ke sana untuk siapkan tempat bagimu!”
(Pada Sepotong Catatan)
Homo Viator
Gregorianus Agung, sang pencetus adagium “homo viator,” yang kelak secara implisit digunakan juga oleh filsuf Prancis, Gabriel Marsel, bahwa “hidup ini seperti seorang di perjalanan yang beristirahat di sebuah penginapan. Ia sempat berhenti sejenak untuk kemudian pergi lagi, tubuhnya berstirahat, tetapi dengan budinya ia sudah berada di tempat yang lain.” Apa sesungguhnya, yang hendak diwartakan lewat adagium bermakna ini? Ya, tentang sebuah kesementaraan itu! “Urip iku mung numpang ngombe!”
Gagasan Filosofis di Balik Kesementaraan itu
- Gagasan pertama: impermanensi gagasan ini sangat sejalan dengan pemikiran filsuf Heraclitos, ‘panta rhei’, bahwa segala sesuatu akan berubah, mengalir, dan tidak ada keabadian.
- Gagasan kedua: hidup kita ini adalah sebuah siklus, adanya sebuah awal yang kelak akan berakhir juga.
- Gagasan ketiga: kematian ialah bagian tak terpisahkan dari hidup ini. Keduanya laksana sekeping uang koin yang memiliki dua sisi yang berbeda, tapi sesungguhnya tak terpisahkan.
Semoga lewat refleksi filosofis ini, dapat menumbuhkan kesadaran baru di dalam diri kita akan sebuah realitas ketidakabadian ini. Bahwa hidup ini, laksana sebuah tempat singgah demi menikmati secangkir kopi pahit. Maka, segera letakkan perlahan cangkir terakhirmu, tengadalah ke angkasa, dan ucapkan kata-kata, “semuanya sudah selesai!”
Refleksi
“Mors Ultima Linea Rerum est”
“Kematian adalah Garis Batas Terakhir dari Segalanya”
(Horatius)
“Memento Mori”
(Ingatlah akan Ajalmu)
Kediri, 26 Februari 2026

