Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Amor Gignit Amorem“
(Cinta Melahirkan Cinta)
(Thomas Aquinas)
Sebuah ‘Happy Ending’
“Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum Tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, Tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum Tuanku punyai adalah ‘cinta di hati mereka’. Maka, saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama Tuan. Sekarang Tuan menuai apa yang Tuan tanam, ialah cinta dari dalam hati mereka.” Demikian isi paragraf akhir dari kisah berjudul, “Menuai Cinta.”
(Inspirasi tanpa Menggurui).
Inilah kisah klasih yang penuh makna dari negeri Tiongkok kuno.
Hiduplah seorang Saudagar kaya. Dia mempunyai seorang hamba yang terkenal lugu, sehingga masyarakat menyapanya dengan sebutan ‘si Lugu alias si Bodoh.’
Suatu hari, Tuannya memintanya untuk menagih utang di sebuah kampung paling miskin. “Utang mereka sudah jatuh tempo,” kata sang Tuan.
“Baik, Tuan,” sahut si Lugu. “Tapi, Tuan, uangnya nanti mau diapakan?”
“Belikan saja sesuatu yang belum aku punyai.”
Maka, pergilah si Lugu ke kampung itu. Di sana ia sibuk mengumpulkan receh. Setelah tuntas, maka ia segera pulang. Namun, dalam perjalanan pulang, ia teringat akan pesan Tuannya. “Belikan sesuatu yang menurutmu, belum aku punyai.”
“Apa, ya?” tanya si Lugu dalam hati. Setelah ia sejenak berpikir, ia menemukan sebuah kesimpulan. Apa yang diperbuatnya?
Dia kembali ke kampung miskin itu. Lalu dibagikannya uang itu kepada penduduk kampung.
“Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian,” katanya. Penduduk kampung itu sangat gembira dan memuji kemurahan hati Tannya itu.
Sekembalinya si Lugu dari kampung dan ia pun melaporkan kepada Tuannya, yang telah diperbuatnya. Dang Tuan itu tak habis pikir. “Ah, benar-benar bodoh si Lugu ini.”
Sang waktu berlalu dengan cepat. Dengan adanya pergantian Pemimpin, maka usaha itu pun mengalami kemunduran. Akhirnya Tuan itu jatuh miskin.
Kini dia terlunta tertatih meninggalkan rumah. Ternyata si Lugu itu masih setia bersamanya. Saat keduanya tiba di kampung miskin itu, penduduk menyambut mereka dengan gembira. Mereka menyediakan makanan dan tumpangan bagi keduanya.
“Siapakah para penduduk kampung itu dan mengapa mereka dengan riang dan hangat menyediakan tumpangan dan makanan bagiku?”
“Dulu, Tuan pernah menyuruh saya menagih utang kepada mereka. Ingatkah Tuan, karena saya pun mengembalikan uang Tuan kepada mereka,” jawab si Lugu.
(Inspirasi tanpa Menggurui)
Kebaikan itu akan Beranak Pinak
Sungguh, agung refleksi dari filsuf dan teolog Santo Thomas Aquinas, bahwa “cinta itu akan melahirkan cinta lagi.” Artinya kita akan menuai yang pernah kita tanam. Jika Anda menanam angin, maka, bersiaplah untuk diterpa angin. Jika, Anda menanam badai, makan bersiaplah untuk diterjang badai. Jika Anda menanamkan kesetiaan dan ketulusan, maka akan bersemilah kembang-kembang kesetiaan serta ketulusan. Itulah hukum kehidupan. Jika ada aksi, maka melahirkan reaksi.
Refleksi
- Sungguh, kebaikan Anda itu tidak dapat dikuburkan. Karena setiap kebaikan akan membuahkan kebaikan pula. Ia akan berbunga dan berbuah lebat.
- Betapa penting dan mendasar, bagaimana cara Anda mendidik putra-putri Anda. Bukankah anak yang dididik dengan cinta itu akan mampu mencintai? Sedangkan anak yang dididik dengan cemoohan dan cercaan pun akan jadi pribadi pencemooh?
- Sungguh, berbahagialah orang yang rajin menanamkan benih-benih cinta di lubuk hatinya, karena dari sana akan bermekaran bunga-bunga cinta.
“Si Vis Amari, Ama!“
(Jika engkau ingin dicintai, maka cintailah)
(Seneca)
…
Kediri, 30 Desember 2025

