Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Namaku terukir indah di atas telapak tangan-Mu.”
(Sabda Sang Hidup)
Kita ini Milik Tuhan
“Baik hidup, maupun mati, kita ini tetap milik Tuhan,” sabda sang Kehidupan. Ya, demikianlah kesaksian iman kita.
Ujung Jemari di Kaki Langit
Tatkala senja nan sendu tiba, tampak terulur setangkai tangan berjemari indah, sedang asyik ‘melukis sebuah garis panjang’ di kaki langit senja.
Sementara itu, terdengar sebuah tanya, “Sedang buat apakah engkau?”
“Aku sedang melukis sebuah garis panjang tentang misteri kehidupan dan kematian manusia. Ya, tentang sebuah titik awal kehidupan, secarik titik perjuangan hidup, dan akhirnya, sebuah titik akhir kehidupan dari seluruh rentangan ziarah hidup seorang anak manusia.”
“Oh, ternyata demikian ya, misteri dari seulur garis kehidupan seorang anak manusia itu.” Ya, inilah seluruh proses dan dinamika dari alur kehidupan dan kematian itu!
Demikian selengkapnya!
- Titik Awal Kehidupan Tuhan telah mengizinkan dengan mengutus seorang anak manusia untuk turun ke jagad hidup ini lewat rahim seorang Ibu. Inilah masa kecil seorang manusia. Di sini pulalah ia dididik dan dibimbing dari masa bayi hingga mencapai usia pemuda.
- Titik Perjuangan Kehidupan. Pada titik paling krusial ini, seorang manusia mencapai usia dewasa dan matang. Ia hidup dan berkarya sesuai bakat dan panggilan yang diberikan oleh Tuhan. Berjaya atau terpuruknya ia, tentu sangat bergantung dari usaha dan kreativitasnya. Apakah dia jadi seorang Raja ataukah seorang pengemis latah, tentu sangat bergantung pada kreativitas dan usahanya.
- Titik Akhir Kehidupan inilah yang dinamakan titik kematian. Seluruh proses ziarah hidupnya yang singkat itu telah berakhir. Ia pun kembali memasuki rahim Ibu bumi.
Hidup itu Singkat
“Urip iku mung numpang ngombe,” sebuah pepatah yang penuh makna dalam Bahasa Jawa. Yang bermakna, bahwa “Hidup itu memang hanyalah seolah singgah untuk minum secangkir kopi.” Artinya, hidup itu ternyata sangat singkat.
“Batas umur kami tujuh puluh atau delapan puluh tahun, jika kuat,” demikian sabda Tuhan.
Kehidupan dan kematian itu ibaratnya dua orang saudara kembar alias sekeping uang koin, yang memiliki dua sisi yang saling terkait dan saling bergantung.
Bukankah tidak akan ada peristiwa kematian, jika tanpa ada peristiwa kehidupan? Seperti yang telah dicetuskan secara filsafati, bahwa “Barang siapa yang telah dilahirkan ke atas dunia ini, ia harus siap untuk menerima sebuah kenyataan paling pahit, itulah peristiwa kematian.
Refleksi
- Siapakah sesungguhnya Sang Pelukis di kaki langit senja itu?
- Dialah Sang Alva – Omega, yang Awal dan yang Akhir.
- Baik hidup atau mati, kita ini tetap sebagai milik Tuhan.
In te confido
Memento Mori!
Kediri, 21 November 2025

