Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Gloria Dei Homo Vivens”
“Kemuliaan Allah Berkembang pada Manusia yang Hidup”
(Santo Ireneus)
Tentang sang Waktu yang Bernama Hari Ini
‘Hari ini’ adalah sebuah statemen rutin harian, untuk menyebut ‘nama’ dari setiap hari yang datang baru lagi, setelah malam berganti siang atau hari setelah hari kemarin. Itulah yang kita sebut sebagai ‘hari ini.’
Ketika Anda mulai terjaga dari mimpi malam atau kala Anda mendengar suara riuh kokoh ayam, pun menyaksikan binar-binar lembut cahya setia mentari yang mulai merekah dengan senyum tulusnya, dan juga kala tumit-tumit dari para petani bergegas ke sawah. Itulah pratanda, bahwa kita sudah kembali berada dan berdiri di awal sebuah hari baru lagi, itulah hari ini.
Semboyan nan agung dari Santo Ireneus, teolog dari zaman Bapak-bapak Gereja, “Gloria Dei Homo Vivens,” “Kemuliaan Allah Berkembang pada Manusia yang Hidup” bermaksud dan bermakna, bahwa Allah menghendaki supaya manusia hidup. Santo Ireneus juga mempromosikan nilai-nilai keluhuran universal, agar manusia semakin maju dalam kehidupan. Sehingga kemuliaan Allah pun akan terpancar (Pius Pandor, CP Ex Latina Claritas).
Hendaklah dalam hidup ini, yang selalu diawali dengan sebuah ‘hari ini,’ maka manusia wajib dihormati dan dihargai sebagai manusia yang bermartabat mulia. Manusia bukan materi yang tidak bernyawa, bukan juga sebagai barang komuditas yang akan diperjualbelikan, melainkan pribadi-pribadi yang harus dimuliakan sebagai citra Allah.
Diktum Latihan Rohani Santo Ignatius Loyola
“Hendaklah di dalam seluruh hari-hari hidupnya, manusia memuji dan memuliakan Allah yang telah menciptakannya. Maka, dalam sepanjang waktu hidupnya, yang diawali dengan setiap hari baru, manusia perlu bersikap arif dalam menggunakan segala sesuatu demi hidupnya dan bukan untuk mengejarnya, sampai-sampai manusia pun lantang berteriak, bahwa ia sudah ketiadaan ‘hari ini’ lagi (waktu). Ya, karena manusia sudah berjalan terlampau jauh dengan meninggalkan Tuhan demi mengejar harta duniawi.
Hendaklah di dalam hidupnya yang selalu diawali dengan sebuah hari baru, yakni ‘hari ini,’ manusia perlu menyadari, bahwa dalam hidup hariannya, ia pun berelasi dengan sesama manusia, alam, dan juga dengan Allah. Itulah sebuah ‘segitiga emas’ sebagai sebentuk relasi harmonis.
Dalam konteks ini, manusia perlu menyadari, apa tujuan dari seluruh proses ziarah hidupnya di bumi ini, yang selalu diawali dengan sebuah hari baru di sepanjang hidupnya?
Refleksi
Apakah Tujuan Hidup Manusia?
- Apakah lewat seluruh dinamika hidupnya, manusia memerlukan waktu untuk memuliakan Allah ataukah hanya demi mengejar karier hidupnya?
- Jika orientasi hidup hari ini hanya demi mengejar karier semata, maka kapan saatnya manusia akan memuliakan Allah?
- Bagaimana kemuliaan Allah akan berkembang di dalam diri manusia, jika manusia justru melupakan Allah?
- Hanya, jika manusia berusaha mempromosikan kemanusiaan universal, maka ia akan maju bertumbuh, dan berkembang di dalam hidupnya. Lewat gerbang inilah, maka “kemuliaan Allah pun akan terpancar!”
Bukankah, bahwa semuanya hanya “demi lebih besarnya kemuliaan Allah?”
“Ad Maiorem Dei Gloriam”
(Paus Gregorius Agung)
Kediri, 9 Februari 2026

