Fr. M. Christoforus, BHK
“Guru adalah matahari dalam hidup manusia.”
(Idealisme Bangsa)
Ucapan Penghormatan Bermakna
“Selamat Hari Guru,” adalah sebuah ucapan rutin tahunan, tatkala Hari Guru tiba di setiap tanggal 25 November dalam setiap tahun di negeri kita.
Ucapan bermakna itu menandakan, bahwa ada “rasa hormat dan apresiasi dari warga masyarakat terhadap jasa-jasa para rekan Umar Bakri itu dalam mencerdaskan kehidupan para anak bangsa besar ini.”
Ucapan ini bermakna demi “mengenangkan dan menghormati peran besar para Guru dalam mendidik dan membentuk karakter para generasi muda kita. Karena bukankah Guru itu adalah pembimbing, motivator, dan suri tauladan bagi para muridnya?”
Makna Filosofis yang Diemban Para Guru
- Guru adalah sumber inspirasi dan motivasi bagi para muridnya.
- Guru adalah pemberi cahaya, berupa ilmu pengetahuan bagi para muridnya.
- Guru adalah pemberi kehangatan dan rasa kasih sayang serta perhatian bagi para muridnya.
- Guru adalah sumber energi sebagai pendorong para murid dalam meraih potensi dirinya.
Idealisme dari Ki Hajar Dewantara bagi Para Guru
Ki Hajar Dewantara adalah sosok pribadi agung yang digelari sebagai Bapak Pelopor Pendidikan di Indonesia. Beliau memiliki peran yang sangat besar lewat sebuah idealisme yang dijunjung tinggi hingga kini, berupa spirit filosofis yang wajib dimiliki oleh para Guru.
“Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangunkarsa, Tut Wuri Handayani”
- Ing Ngarso Sung Tulodo: sang Guru wajib untuk berada di garda terdepan sebagai pemberi contoh teladan yang membuka jalan untuk menginspirasi para murid.
- Ing Madyo Mangunkarsa: sang Guru dengan setia berada di tengah-tengah para murid dalam membimbing dan mengembangkan potensi mereka.
- Tut Wuri Handayani: sang Guru berada di belakang para murid untuk mendukung dan memotivasi mereka, jika mengatasi kesulitan.
Dalam konteks yang sangat penting ini, maka peran para Guru sebagai fasilitator dan motivator sangat diperlukan demi mendukung pembentukkan karakter para murid.
Guru adalah Matahari
Para Guru dijuluki juga sebagai “obor atau suluh penerang.” Dalam konteks ini, Guru itu bagaikan bara api yang mampu menghangatkan dan membakar jiwa generasi muda kita dalam meraih kedewasaan diri, mental, dan spiritual.
Refleksi
(Sebuah Ilustrasi)
Ada seorang anak yang tampak sedang meraung meronta dari pelukan Ibunya. Mengapa? Ia sangat ingin, agar sang Ibu sudi memetik matahari untuknya.
Maka, sang Guru itu bagaikan matahari yang senantiasa dirindukan, sebagai api penerang!
Kediri, 22 November 2025

