Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Tak ada damai di sini, ia telah pergi.
Entah kapan ia akan kembali.”
(Refleksi Akhir Tahun)
Dititipinya
secangkir cuka duka dan secarik wajah durja serta juga secarik koran kumal bertulis,
“Tak ada damai di sini, ia telah pergi
dan entah kapan ia kan kembali
Untuk membunuh lagi setiap impian dari anak negeri ini!”
Kediri, 6 Januari 2025
(Refleksi Akhir Tahun)
Kala jemariku sedang lincah menulis refleksi kecil ini, saat ini, kita pun telah berdiri di penghujung tahun 2025. Kita tinggal membilang satu, dua, tiga, dan …
Apa yang Ditinggalkan di Sini dan Apa pula yang Diharapkan Tiba di Sini
Rentangan sunyi sang waktu kronologis pun akan beranjak pergi. Dan yang tertinggal hanyalah sepekat kesunyian.
Apakah hanya duka yang berselimutkan duka yang tertinggal di sini, ataukah juga ada setetes manis madu yang juga enggan untuk beranjak pergi? Ya, entahlah! Tapi, hanya nurani sunyi yang sanggup dengan jujur untuk menyahutinya.
Ya, bukanlah hidup itu hanyalah sebabak sandiwara, yang entah berujungkan ‘happy ending ataukah sad ending.’ Entahlah, aku pun tak tahu, takut kalau keseleo lidah alias salah ucap!
Hidup ini ibarat orang bermain di atas ombak. Apa dan bagaimanakah nasibnya, sedikit banyak bergantung dari gairah gelora gelombang samudra itu.
Tentu, ada kabar suka, tapi tidak sedikit pula berhiaskan duka dan air mata. Kemiskinan laten dan derita seolah tak berujung di sini. Wabah penyakit dan bala bencana datang dan pergi silih berganti.
Aneka Bala Bencana
Antara gunung meletus, banjir bandang melanda, guncangan gempa bumi dasyat, dan kemelaratan anak jalanan, seolah tidak berujung pangkal. Ditambah dengan ganasnya sikap keangkuhan dan gila hormat kita. Apalagi dengan bertumbuh suburnya budaya korupsi yang kian membabibuta. Sungguh, tepat jika dikatakan, bahwa ‘pecunia non olet’, ‘uang itu memang tidak berbau’, walaupun berasal dari sumber yang tak sedap, seperti pajak rakyat atau toilet umum, demikian pandangan dari Kaiser Romawi, Vespasian.
Selamat Datang Tahun 2026
Sang waktu ternyata selalu pergi dan datang silih berganti. Tapi, ternyata selalu ada yang seolah selalu tinggal menatap, ialah ‘sang penderitaan,’ yang entah mengapa, seolah selalu mau tinggal menetap.
Apalagi, jika hal yang tinggal menetap itu adalah kejahatan laten. Maka, tidak mustahil ia toh tak akan beranjak pergi juga.
Sebagai manusia waras, tentu dada batin kita akan selalu berharap, “Semoga tahun 2026 mendatang, tak sudi lagi membunuh setiap impian dari dalam dada para anak negeri ini.”
Refleksi
- Bukankah anugerah waktu itu adalah sebuah rahmat?
- Ketika masih ada kehidupan, di situ pula masih ada harapan (dum vita est, spes est).
“Semoga, Damai dan Kasih Tuhan senantiasa Beserta Kita!”
…
Kediri, 1 Januari 2026

