Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah amanat yang paling agung pun dapat disampaikan lewat sebuah guyonan.”
(Didaktika Seni Hidup)
Hidup pun Butuh Hiburan
Hidup manusia memang terasa berat dan justru akan kian menantang nyali kita. Di sisi yang lain, tidak semua orang akan sanggup menghadapinya. Untuk itu, sangatlah wajar, jika manusia membutuhkan ‘sebuah hiburan’ yang wajar serta sehat sebagai sarana penyegar dan penyemangat hidup, bukan?
Untuk tujuan itu, kita membutuhkan aneka hiburan yang bertujuan menyegarkan dan menyemangati langkah hidup harian kita. “Lelucon alias lawak,” adalah salah satu sarana penyegar hidup yang juga kita butuhkan, bukan?
Jika kita masih mengingat sebuah guyonan spontan dari Gus Dur, ketika massa ramai berteriak agar beliau mundur dari jabatan Presiden?
“Mundur, ayo segera mundur dari jabatan Presiden, jika saudara merasa sudak tidak mampu lagi.”
Apa sahutan Gus Dur? “Sungguh lucu kalian semua. Lho, saya ini, maju saja harus dipapah, koq malah disuruh mundur.” “Itu saja, koq repottt!”
Mendengar tuturan yang bernada guyonan itu, spontan pula lautan massa yang beringas dan sedang berapi-api itu segera terkekeh-kekeh. Ya, itulah dasyatnya efek dari sebuah lelucon! Ia terkesan sangat sederhana, tapi ternyata mampu menyentuh emosi terdalam dari kemanusiaan kita.
Belajar dari Lelucon
Mari kita belajar dari dasyatnya efek sebuah lelucon yang pernah ada dan sempat tenar di bumi ini!
Thomas Paine, negarawan Amerika pernah mengatakan, “… Dipuji dan ditertawakan itu kerap kali begitu dekat kaitannya, hingga sulit dikelompokkan secara terpisah. Satu langkah saja di atas pujian sudah membuatnya jadi bahan tertawaan. Begitu pula satu langkah di atas yang ditertawakan, dapat membuatnya jadi dipuji lagi.”
Berikut ini disajikan sebuah cerita detektif terkenal, “Sherlock Holmes dan Temannya Watson.” Kisah bernada canda ini, sepintas hanyalah sebuah guyonan ala kadarnya, tapi, pesan moralnya, ternyata sungguh dasyat.
Inilah Kisah Lengkapnya!
Di suatu sore, Sherlock Holmes dan asisten setianya Watson sedang berkemah di tengah ekspedisinya. Setelah santap malam, keduanya masuk kamar dan tidur dengan nyenyak.
Di tengah malam tiba-tiba Holmes membangunkan sang Asisten.
“Watson, bangun! Coba katakan yang kau lihat?” Sambil mengucek-ucek mata, Watson lantas melihat ke atas langit malam, “Aku melihat bermiliar-miliar bintang.”
“Lantas apa arti semua itu,” sergah Holmes.
“Miliaran bintang itu pertanda adanya potensi terbentuknya jutaan planet,” jawab Watson. “Namun waktu kalau berdasarkan posisi bulan, saat ini mendekati pukul 04.00 subuh.”
“Apalagi?” desak sang Bos.
“Ah, aku masih ngantuk dan capek. Kalau menurut kamu sendiri, apa arti semua itu?”
Yang ditanya terdiam sejenak. Lalu menjawab, “Watson sayang! Artinya ada maling mencuri TENDA kita!”
(Inspirasi tanpa Menggurui)
‘Lelucon’ salah Satu Cara Berekspresi
Ada aneka cara untuk mengekspresikan diri Anda di hadapan sesama manusia. Hal itu tentu akan sangat bergantung dari karakter seseorang, bukan?
Salah satu cara berekspresi diri itu ialah lewat cara “Lelucon alias melawak.”
Lewat tulisan refleksi ini, penulis menekankan, bahwa ‘melawak alias melucu’, adalah sebuah sarana penting, bagaimana cara menyampaikan suatu gagasan yang berdampak menyegarkan suasana hati orang. Bukankah hal itu adalah sesuatu yang sangat positif?
Refleksi
Semalam, seorang ‘penjaga keamanan desa’ berniat mencuri seekor sapi gemuk, tapi ia telah gagal total!
Saking gemuknya sapi itu, maka saat ditarik ke luar, tubuhnya tersangkut karena sempitnya pintu kandang. Karena terus ditarik dengan paksa, maka yang dapat ke luar kandang hanya ekornya saja. Ah ekor sapi itu sudah terlepas dari tubuhnya … sehingga sapi itu tidak berekor lagi.
- Apa yang dapat Anda dan saya ‘refleksikan’ di balik kisah ini?
- Apa ‘amanat’ yang dapat kita petik dari kisah ini?
Kediri, 5 Januari 2026

