Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sebuah instruksikan melahirkan kemarahan, sedangkan ajakan mendatangkan persahabatan”
(Didaktika Hidup Sadar)
Banyak Kepala Banyak Instruksi
Tidaklah berlebihan, jika dikatakan, bahwa dalam kehidupan ini, kita sangat sering menerima beraneka instruksi yang berasal dari berbagai pihak. Ada instruksi yang berasal dari negara, organisasi, atau juga dari lembaga sekolah, tempat anak-anak kita bersekolah. Hal ini seringkali berdampak membingungkan, jika instruksi-instruksi itu justru tidak jelas. Ya, itulah dampaknya, jika setiap orang sangat doyan memberikan instruksi yang terkesan mendiktekan keinginannya. Padahal secara psikologis, orang justru akan lebih nyaman, jika ‘diajak dan bukan diinstruksikan.’ Kondisi miris ini sering diguyonkan, jika banyak kepala, maka akan ada banyak instruksi.
Orang Belum Mampu Membedakan antara: Instruksi dengan Ajakan Persuasif
Manusia selaku audiens adalah pribadi-pribadi yang sangat unik dan berbeda-beda reaksinya di saat menerima sebuah informasi. Apalagi, jika bahasa dan intonasi yang digunakan itu terkesan kasar, bersifat mendikte dan memaksa, atau terkesan mendiskreditkan. Menghadapi kondisi riil serupa ini, maka orang-orang akan segera memasang badan alias membentengi diri dengan bersikap skeptis dan masa bodoh.
Hal ini justru mau menunjukkan, bahwa orang tidak menyukai gaya atau cara-cara yang terkesan serba instruktif atau mendikte. Dalam konteks ini, sebetulnya orang akan lebih tertarik untuk merespon secara positif terhadap sesuatu yang bersifat persuasif alias membujuk atau mengajak.
Bahasa adalah Dasarnya
Dalam konteks kerumitan dan kekacauan antar logika alias nalar bahasa dan rasa bahasa ini, maka aspek ‘kemampuan berbahasa’ adalah hal yang vital dan sangat mendasar. Karena bukankah dari pikiran yang kacau, maka akan lahirlah bahasa yang kacau? Dari pikiran yang jernih, maka akan lahirlah bahasa yang jernih pula? Inilah hukum kehidupan yang disebut hukum timbal balik.
Ada yang Berlagak sebagai Penguasa
Makhluk manusia sedari kodratnya, memang suka untuk menguasai sesamanya. Ingatlah akan adagium Latin, ‘homo homini lupus’ (manusia yang satu ingin menguasai manusia yang lain). Inilah naluri bawaan yang melekat erat di dalam diri dan pribadi setiap manusia.
Cermatilah pada aspek kemampuan berbahasa yang sering digunakan oleh para pemimpin kita yang cenderung bersifat arogan, komando, instruktif, dan meremehkan. Dampaknya di balik itu, tak pelak akan melahirkan kritikan pedas, bara kemarahan, bahkan berdemo, karena rakyat merasa dilecehkan.
Di negeri tercinta ini, jika kita masih mau ingat, pada reaksi sporadis dan dampak yang mengerikan, karena perilaku serta ucapan dari wakil rakyat kita yang terkesan merendahkan rakyat? Bulan Agustus tahun 2025 adalah saksi bisu dari aksi brutal itu.
Refleksi
“Bahasa menunjukkan bangsa!”
(Peri bahasa bangsa)
Bahasaku adalah jati diriku. Karena bahasa adalah identitas dari personalitasku!
Maka, bahasaku adalah aku.
Kediri, 28 Oktober 2025

