Red-Joss.com – Seseorang mengetuk pintu pagar rumah. Ketika pagar saya buka, seorang lelaki baya tersenyum simpatik padaku.
“Pagi, Pak,” sapanya ramah.
“Pagi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya saya sambil membuka pintu pagar. Saya tidak mengenalnya. Ia juga bukan warga se RT.
Lelaki baya itu menarik nafas untuk menenangkan diri. Ia menatapku ragu.
“Maaf, jika Bapak berkenan, saya mau minta pekerjaan…,” suaranya bergetar.
Saya terperangah tidak percaya. Jika melihat penampilannya, tentu ia lebih tua dibandingkan saya. Saya mengajaknya masuk, lalu duduk di gazebo.
“Bapak tidak salah minta pekerjaan pada saya?” tanya saya sambil mengambil minuman gelas yang ada di gazebo, lalu memberikan padanya.
Lelaki baya itu, PR menggeleng lemah. Dengan suara terbata, PR menjelaskan maksudnya untuk bekerja.
Sekali lagi saya terperangah. PR ingin bekerja, karena tidak mau merepotkan anaknya. Ia dan istri merasa tidak enak hati dengan menantu perempuan. Ia juga tidak mempunyai uang pensiun. Dengan bekerja, ia bermaksud meringankan beban anaknya.
Jujur, saya senang dengan sikap PR yang terbuka dan terus terang itu. Tujuannya untuk bekerja itu baik. Tapi belum tentu diterima oleh anak dan menantunya. Jika tersinggung? Saya belum membutuhkan tenaga. Anak-anak sudah besar, sehingga semua pekerjaan rumah dikerjakan bersama-sama.
Saya juga tidak mau disalahkan anak PR, jika mempekerjakan Bapaknya untuk beberes kebun, misalnya.
Dilematis, itu jika tidak ada sikap keterbukaan dan keterus-terangan dalam keluarga. Banyak orang lebih dominan menggunakan perasaan atau sensi, ketimbang logika.
Kejujuran PR itu juga harus saya apresiasi. Ia berani terus terang, bekerja agar memperoleh uang, ketimbang menadahkan tangan untuk meminta atau dikasihani.
Bisa jadi juga, karena PR terbiasa bekerja. Tanpa bekerja dan bergerak, tubuh cepat jadi pegal-pegal dan linu. Ibarat mesin yang dionggrokin itu cepat rusak dan berkarat. Sebaliknya, dengan berkerja dan berpikir itu tubuh jadi sehat dan tidak cepat pikun.
Saya jadi teringat kisah manula di Okinawa, Jepang, yang mempunyai penduduk dengan usia panjang. Bahkan di usia 90 tahun ada yang memanen buah, membajak ladang atau bersepeda.
Untuk pekerjaan yang diminta PR, saya tidak mau cepat mengambil keputusan atau menanggapi. Saya tidak mau disalahkan oleh anaknya. Tapi saya selalu siap membantu, jika PR membutuhkan pertolongan.
Allah telah mengirim PR ke rumah. Ternyata PR merupakan teman baru yang asyik untuk diajak ngobrol, sekaligus bertukar pikiran.
…
Mas Redjo

