Dalam kesunyian, keheningan, dan doa, kita menemukan Allah yang disembah, dipuji dan yang kita minta.
Sejatinya apa pun yang diminta dalam kesunyian, keheningan, dan doa, jika itu dikabulkan, maka kita terima dengan penuh iman. Sebab penerimaan ini akan menentukan sikap kita kepada Dia yang disembah, dipuji dan yang kita minta.
“Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku, menurut perkataan-Mu.”
Kita tahu, inilah jawaban Bunda Maria dari tempat yang sunyi, hening, dan doanya.
Bunda Maria dan Malaikat Gabriel, utusan Tuhan mempunyai ‘dialog tingkat tinggi’. Mereka tidak sekadar berkomunikasi, tapi keduanya hendak memastikan, bahwa misi keselamatan yang diberikan Tuhan harus sampai kepada paripurna. Sejak awal itu dibutuhkan pribadi-pribadi yang ‘tegas’ dalam memberikan jawaban, dipegang janjinya itu, dan sungguh dilaksanakan.
Kita juga dapat belajar dari sosok St. Yosep. Bahkan tahun ini diperuntukkan bagi Santo Yosep yang sosoknya unik, karena harus diyakinkan dalam mimpi setiap kali akan mengambil keputusan.
Sekarang, apa yang telah kita dapatkan, saat kita dalam sunyi, hening, dan berdoa? Sudahkah kita mendapatkan jawabannya?
Semoga dalam membangun intimasi dengan Tuhan, kita dapat meneladani Bunda Maria, Ratu Rosario yang rendah hati.
Rm. Petrus Santoso SCJ

